Di negeri yang katanya menjunjung tinggi hukum, terkadang
kebenaran harus menempuh jalan berliku. Ijazah Presiden Joko Widodo—selembar
dokumen akademik yang seharusnya menjadi bukti kelulusan—telah menjelma menjadi
panggung drama nasional. Bukan karena nilai IPK-nya, tapi karena pertanyaan
yang tak kunjung reda: asli atau palsu?
Isu ini bukan sekadar soal huruf dan stempel. Ia telah
menjelma menjadi pertarungan narasi, antara yang percaya pada institusi dan
yang curiga pada sistem.
Dalam diskusi terbuka di Indonesia Lawyers Club, sejumlah
tokoh hukum mengusulkan agar polemik ini diselesaikan melalui mediasi.
Alasannya? Agar energi bangsa tidak habis dalam perdebatan yang tak produktif.
Namun, di sisi lain, Polda Metro Jaya justru bersiap menggelar gelar perkara
khusus atas laporan dugaan ijazah palsu.
Langkah ini menandai bahwa proses hukum masih berjalan.
Bahkan, polisi telah menyita ijazah asli SMA dan S1 Jokowi sebagai barang bukti
formal. Artinya, isu ini telah berpindah dari ruang opini publik ke meja
penyidikan.
Sebagai advokat, saya melihat dua jalur ini bukan sekadar
prosedur, tapi pilihan etika dan strategi:
- Mediasi adalah jalan damai. Ia menuntut kerendahan hati dan
niat tulus untuk menyelesaikan sengketa tanpa saling menjatuhkan. Namun,
dalam perkara yang menyangkut integritas pejabat publik, apakah
mediasi cukup memuaskan rasa keadilan publik?
- Pengadilan adalah arena pembuktian. Di sinilah semua pihak bisa
menguji argumen, bukti, dan niat. Tapi, ia juga bisa menjadi panggung
politik, tempat di mana hukum dan opini publik saling berbenturan.
Kita hidup di zaman di mana scan dokumen bisa lebih
viral daripada putusan pengadilan. Tapi hukum tak boleh tunduk pada trending
topic. Ia harus berdiri di atas bukti, bukan bisik-bisik.
Jika benar ijazah itu palsu, maka pengadilan adalah
tempatnya. Jika tidak, maka publik berhak tahu dengan terang. Bukan melalui
potongan video, tapi melalui proses hukum yang transparan dan akuntabel.
Apakah polemik ini akan berakhir di meja mediasi atau palu
hakim? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti: kita sedang diuji,
bukan hanya soal ijazah, tapi soal integritas sistem hukum kita.
Karena dalam demokrasi, kepercayaan publik adalah mata uang
paling mahal. Dan dalam hukum, keadilan bukan hanya harus ditegakkan—tapi juga
harus terlihat ditegakkan.
Darius Leka, S.H.
#shdariusleka #jangkarkeadilan #reels #foryou #fyp
#jangkauanluas @semuaorang
#ijazahjokowi #mediasivspengadilan #edukasihukum #advokatbicara #satirehukum
#politikdanhukum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar