JANGKARKEADILAN, JAKARTA — Dalam dunia hukum, motif adalah kunci. Ia tak terlihat, tapi menentukan arah. Dan ketika Silfester Matutina—Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet)—mengungkap bahwa ada “bohir” dan “menteri biru” di balik desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, publik pun terperangah. Bukan karena keterkejutannya, tapi karena dugaan itu terasa terlalu familiar: kekuasaan yang bermain di balik layar hukum.
Dalam sebuah podcast yang tayang 19 Juni 2025, Silfester menyebut bahwa
desakan pemakzulan Gibran bukanlah gerakan moral, melainkan manuver politik
yang disokong oleh kekuatan yang kalah dalam Pilpres 2024. “Itu pasti ada
bohirnya,” katanya lugas.
Sebagai advokat, saya percaya bahwa hukum harus netral. Namun sejarah kita
terlalu sering menunjukkan sebaliknya. Ketika hukum dijadikan alat untuk
menjatuhkan lawan politik, maka yang runtuh bukan hanya reputasi, tetapi juga
kepercayaan publik terhadap sistem.
Pemakzulan bukan perkara ringan. Ia diatur secara ketat dalam UUD 1945 Pasal
7A dan 7B, yang mensyaratkan pelanggaran hukum berat seperti pengkhianatan
terhadap negara, korupsi, atau tindakan tercela. Maka jika desakan pemakzulan
hanya didasarkan pada motif politik atau sakit hati elektoral, itu bukan hanya
tidak berdasar, tapi juga berbahaya.
Siapa “menteri biru” yang dimaksud? Tak ada nama disebut. Tapi publik sudah
mulai berspekulasi. Dan seperti biasa, spekulasi lebih cepat menyebar daripada
klarifikasi. Di sinilah hukum diuji: apakah ia akan tunduk pada opini, atau
tetap tegak pada bukti?
Bayangkan jika hukum adalah panggung, dan para menteri adalah aktor. Maka
rakyat adalah penonton yang tak pernah diajak menulis naskah. Mereka hanya bisa
bertepuk tangan atau mencemooh, tanpa tahu siapa sebenarnya dalang di balik
tirai.
Masyarakat perlu memahami bahwa pemakzulan bukanlah instrumen politik,
melainkan mekanisme konstitusional yang sangat serius. Jika digunakan sembarangan,
ia bisa menjadi preseden buruk. Hari ini Gibran, besok siapa lagi?
Kita harus belajar membedakan antara kritik yang sah dan serangan yang
bermotif. Kritik membangun demokrasi. Tapi serangan tanpa dasar hukum hanya
akan merusak fondasi negara hukum.
Jika benar ada “menteri biru” yang bermain di balik layar, maka kita harus
bertanya: apakah ia sedang memperjuangkan keadilan, atau sekadar menagih
kekuasaan yang gagal diraih? Dan jika hukum ikut terseret dalam pusaran ini,
maka kita semua harus bersuara.
Karena hukum adalah milik rakyat. Bukan milik bohir. Bukan milik menteri.
Dan bukan milik mereka yang kalah dalam pemilu.
Oleh; Darius Leka, S.H., M.H. — Advokat & Aktivis
Keadilan Sosial
#shdariusleka #jangkarkeadilan #reels #foryou #fyp #jangkauanluas #pemakzulanGibran
#menteribiru #silvestermatutina #politikdanhukum #edukasihukum #bohirpolitik
#advokatbicara #hukumuntukrakyat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar