![]() |
Dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 bertema “Keluarga
Sehat akan Mewujudkan Gereja yang Kuat”, beliau menegaskan bahwa negara,
sekolah, dan Gereja memang punya tugas mendidik. Tapi sifatnya kontributif.
Yang utama tetap orangtua.
Secara hukum, Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak pendidikan bagi
setiap warga negara. Tapi siapa yang memegang kendali awal? UU No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan dimulai
dari keluarga. Gereja pun sepakat.
Paus Yohanes Paulus II pernah menyerukan: “Keluarga,
jadilah sebagaimana seharusnya!”
Sebuah imbauan apostolik yang bukan sekadar nasihat, tapi mandat spiritual dan
sosial.
Mgr. Pandoyoputro menegaskan, sehat bukan hanya soal
jasmani. Tapi juga soal rohani dan sosial. Keluarga yang sehat adalah keluarga
yang menanamkan nilai iman, harapan, kasih, keadilan, dan kebenaran.
Karena anak-anak bukan hanya butuh gizi, tapi juga butuh nilai.
Dalam dunia hukum, ini disebut sebagai pendidikan
karakter. Tapi Gereja menyebutnya pembentukan jiwa dalam Kristus.
Dua istilah, satu tujuan: membentuk manusia seutuhnya.
Uskup Malang mengajak umat untuk menghidupi lima pilar Gereja:
- Koinonia
(Persekutuan)
- Leiturgia
(Liturgi)
- Kerygma
(Pewartaan Injil)
- Diakonia
(Pelayanan)
- Martyria
(Kesaksian Iman)
Dan semua itu, katanya, harus dimulai dari rumah. Karena
Gereja yang kuat bukan dibangun dari batu, tapi dari keluarga yang sehat.
Di era digital, anak-anak lebih hafal nama YouTuber daripada
nama nabi. Lebih paham algoritma TikTok daripada ajaran kasih.
Dan orangtua? Sibuk bekerja, sibuk berdebat soal kurikulum, tapi lupa bahwa
pendidikan dimulai dari meja makan, bukan dari ruang kelas.
Mgr. Pandoyoputro mengingatkan: “Gerakan bersama
mewujudkan kesejahteraan tidak ada gunanya kalau sel kebersamaan yaitu keluarga
dilalaikan.”
Dalam hukum, keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Dalam
iman, keluarga adalah Gereja yang hidup. Maka membangun bangsa dan Gereja harus
dimulai dari rumah. Dari doa pagi, dari pelukan malam, dari nilai yang
ditanamkan setiap hari.
Karena anak-anak bukan hanya masa depan bangsa. Mereka
adalah masa kini keluarga.
Dan keluarga yang sehat, adalah Gereja yang kuat.
Adv. Darius Leka,
S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar