Kamis, 11 Juni 2020

Keluarga; Sekolah Pertama, Gereja yang Hidup


JANGKARKEADILAN.COM, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk kurikulum nasional, revisi undang-undang pendidikan, dan debat tentang siapa paling berhak mendidik anak, Uskup Malang Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro OCarm mengingatkan kita akan satu hal yang sering terlupakan: Keluarga adalah pendidik utama dan pertama.

Dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 bertema “Keluarga Sehat akan Mewujudkan Gereja yang Kuat”, beliau menegaskan bahwa negara, sekolah, dan Gereja memang punya tugas mendidik. Tapi sifatnya kontributif. Yang utama tetap orangtua.

Secara hukum, Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak pendidikan bagi setiap warga negara. Tapi siapa yang memegang kendali awal? UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Gereja pun sepakat.

Paus Yohanes Paulus II pernah menyerukan: “Keluarga, jadilah sebagaimana seharusnya!”
Sebuah imbauan apostolik yang bukan sekadar nasihat, tapi mandat spiritual dan sosial.

Mgr. Pandoyoputro menegaskan, sehat bukan hanya soal jasmani. Tapi juga soal rohani dan sosial. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang menanamkan nilai iman, harapan, kasih, keadilan, dan kebenaran.
Karena anak-anak bukan hanya butuh gizi, tapi juga butuh nilai.

Dalam dunia hukum, ini disebut sebagai pendidikan karakter. Tapi Gereja menyebutnya pembentukan jiwa dalam Kristus. Dua istilah, satu tujuan: membentuk manusia seutuhnya.

Uskup Malang mengajak umat untuk menghidupi lima pilar Gereja:

  • Koinonia (Persekutuan)
  • Leiturgia (Liturgi)
  • Kerygma (Pewartaan Injil)
  • Diakonia (Pelayanan)
  • Martyria (Kesaksian Iman)

Dan semua itu, katanya, harus dimulai dari rumah. Karena Gereja yang kuat bukan dibangun dari batu, tapi dari keluarga yang sehat.

Di era digital, anak-anak lebih hafal nama YouTuber daripada nama nabi. Lebih paham algoritma TikTok daripada ajaran kasih.
Dan orangtua? Sibuk bekerja, sibuk berdebat soal kurikulum, tapi lupa bahwa pendidikan dimulai dari meja makan, bukan dari ruang kelas.

Mgr. Pandoyoputro mengingatkan: “Gerakan bersama mewujudkan kesejahteraan tidak ada gunanya kalau sel kebersamaan yaitu keluarga dilalaikan.”

Dalam hukum, keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Dalam iman, keluarga adalah Gereja yang hidup. Maka membangun bangsa dan Gereja harus dimulai dari rumah. Dari doa pagi, dari pelukan malam, dari nilai yang ditanamkan setiap hari.

Karena anak-anak bukan hanya masa depan bangsa. Mereka adalah masa kini keluarga.
Dan keluarga yang sehat, adalah Gereja yang kuat.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar