"Kesetiaan terkadang datang berlawanan dengan apa yang sudah disepakati"
![]() |
| Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM. Foto: Darius Leka |
Mengapa?
Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Bogor, punya jawabannya: “Karena iman
tidak bertumbuh dalam keluarga. Orang lupa akan makna panggilan hidup
berkeluarga dan belum menjalankannya secara penuh.”
Banyak keluarga kandas bukan karena badai besar, tapi karena akar yang tak
pernah tumbuh. Iman yang tak disiram, komitmen yang tak dipupuk, dan cinta yang
dibiarkan layu. Pernikahan bukan sekadar pesta dan foto prewedding di tepi
danau, tapi perjuangan harian yang tak selalu Instagramable.
Uskup Angkur mengingatkan, “Agama Kristiani adalah agama perjuangan.” Maka
jangan heran jika pernikahan pun adalah medan tempur: melawan ego, melawan
godaan, melawan lupa akan janji.
Secara hukum, perceraian adalah hak. Tapi secara iman, perceraian adalah
luka. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa
tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Tapi
bagaimana mungkin kekal jika kesetiaan hanya sebatas status WhatsApp?
Dalam hukum gereja Katolik, pernikahan adalah sakramen, tak bisa dibatalkan
kecuali melalui proses yang sangat ketat. Maka ketika pasangan Katolik bercerai
secara sipil, tapi tidak secara kanonik, mereka hidup dalam status yang
menggantung: legal di mata negara, tapi belum tentu sah di mata Gereja.
Uskup Angkur mengibaratkan keluarga seperti tubuh. Jika satu bagian sakit,
jangan langsung amputasi. Obati. Rawat. Beri waktu. Tapi di zaman serba instan
ini, banyak yang lebih memilih “ganti pasangan” daripada “perbaiki hubungan.”
Seolah-olah cinta bisa ditukar tambah seperti ponsel.
Padahal, keluarga Katolik dipanggil menjadi miniatur Gereja. Tempat kasih, pengampunan, dan pertumbuhan iman. Bukan panggung drama atau ladang konflik.
Kesetiaan bukan berarti tak pernah tergoda. Tapi tetap memilih untuk
kembali. Sama seperti Kristus yang setia hingga akhir, kita pun dipanggil untuk
setia—meski jatuh, meski lelah, meski dunia berkata “move on saja.”
Amsal 3:5-7 mengingatkan: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri… itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”
Kesetiaan bukan sekadar kata manis di undangan pernikahan. Ia adalah
keputusan harian. Ia adalah hukum tak tertulis yang lebih kuat dari
pasal-pasal. Dan ketika iman menjadi fondasi, cinta tak hanya bertahan—ia
bertumbuh.
Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar.
Tapi siapa yang paling setia.
Adv. Darius Leka, S.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar