Jumat, 12 Juni 2020

Kesetiaan; Janji yang Mudah Diucap, Sulit Ditegakkan

"Kesetiaan terkadang datang berlawanan dengan apa yang sudah disepakati"
Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM. Foto: Darius Leka

JANGKARKEADILAN, DEPOK – Di altar cinta, dua insan bersumpah: sehidup semati, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit. Tapi di ruang tamu kenyataan, janji itu seringkali retak, bahkan pecah berkeping-keping. Kesetiaan, yang katanya kunci rumah tangga, justru sering menjadi pintu keluar dari pernikahan.

Mengapa?

Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Bogor, punya jawabannya: “Karena iman tidak bertumbuh dalam keluarga. Orang lupa akan makna panggilan hidup berkeluarga dan belum menjalankannya secara penuh.”

Banyak keluarga kandas bukan karena badai besar, tapi karena akar yang tak pernah tumbuh. Iman yang tak disiram, komitmen yang tak dipupuk, dan cinta yang dibiarkan layu. Pernikahan bukan sekadar pesta dan foto prewedding di tepi danau, tapi perjuangan harian yang tak selalu Instagramable.

Uskup Angkur mengingatkan, “Agama Kristiani adalah agama perjuangan.” Maka jangan heran jika pernikahan pun adalah medan tempur: melawan ego, melawan godaan, melawan lupa akan janji.

Secara hukum, perceraian adalah hak. Tapi secara iman, perceraian adalah luka. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Tapi bagaimana mungkin kekal jika kesetiaan hanya sebatas status WhatsApp?

Dalam hukum gereja Katolik, pernikahan adalah sakramen, tak bisa dibatalkan kecuali melalui proses yang sangat ketat. Maka ketika pasangan Katolik bercerai secara sipil, tapi tidak secara kanonik, mereka hidup dalam status yang menggantung: legal di mata negara, tapi belum tentu sah di mata Gereja.

Uskup Angkur mengibaratkan keluarga seperti tubuh. Jika satu bagian sakit, jangan langsung amputasi. Obati. Rawat. Beri waktu. Tapi di zaman serba instan ini, banyak yang lebih memilih “ganti pasangan” daripada “perbaiki hubungan.” Seolah-olah cinta bisa ditukar tambah seperti ponsel.

Padahal, keluarga Katolik dipanggil menjadi miniatur Gereja. Tempat kasih, pengampunan, dan pertumbuhan iman. Bukan panggung drama atau ladang konflik.

Kesetiaan bukan berarti tak pernah tergoda. Tapi tetap memilih untuk kembali. Sama seperti Kristus yang setia hingga akhir, kita pun dipanggil untuk setia—meski jatuh, meski lelah, meski dunia berkata “move on saja.”

Amsal 3:5-7 mengingatkan: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri… itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”

Kesetiaan bukan sekadar kata manis di undangan pernikahan. Ia adalah keputusan harian. Ia adalah hukum tak tertulis yang lebih kuat dari pasal-pasal. Dan ketika iman menjadi fondasi, cinta tak hanya bertahan—ia bertumbuh.

Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar. Tapi siapa yang paling setia.

 

Adv. Darius Leka, S.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar