![]() |
Diskusi ini bukan sekadar ajang wacana. Ia adalah panggilan.
Panggilan untuk tidak menjadi penonton dalam pesta demokrasi yang akan digelar
9 Desember 2015. Panggilan untuk tidak hanya menjadi umat yang taat, tapi juga
warga yang aktif.
Jusuf Suroso membuka diskusi dengan mengutip Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ: “100% Katolik, 100% Indonesia.” Sebuah kalimat yang tak
pernah kehilangan relevansi. Karena menjadi Katolik bukan berarti menepi dari
urusan publik. Justru sebaliknya, iman yang hidup adalah iman yang hadir di
tengah masyarakat.
Jusuf mengingatkan bahwa sejak zaman penjajahan, umat Katolik telah ikut memperjuangkan kemerdekaan. Maka, dalam demokrasi hari ini, umat Katolik tak boleh absen. “Kami ingin didengar sebagai warga Depok, sebagai warga Indonesia. Terutama dalam hal toleransi dan keberagaman,” ujarnya.
Ketua DPRD Kota Depok, Hendrik Tangke Allo, memaparkan
realitas kota: luas 200,3 km², penduduk 1,75 juta jiwa, APBD Rp2,4 triliun.
Kota tanpa tambang, tanpa perkebunan, tapi kaya akan sumber daya manusia.
“Inilah potensi kita. Tapi potensi itu hanya bisa tumbuh jika kepala daerahnya
tidak membeda-bedakan,” tegasnya.
Dalam konteks hukum, Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menjamin
persamaan di hadapan hukum dan pemerintahan. Maka, kepala daerah yang
diskriminatif bukan hanya tidak etis, tapi juga inkonstitusional.
Anton Sulis, Ketua FMKI Keuskupan Bogor, menyampaikan pesan
yang menggugah: “Memperhatikan yang lemah, miskin, tersingkir, dan tak berdaya
adalah sakramen politik.” Sebuah frasa yang mungkin terdengar asing, tapi
justru sangat mendalam. Karena politik sejatinya adalah pelayanan. Dan
pelayanan adalah inti dari iman Kristiani.
Anton mengkritik sikap apatis umat yang lebih memilih
kenyamanan rohani daripada keterlibatan sosial. “Kekatolikan kita perlu
dipertanyakan jika kita tidak peduli pada keadaan sekitar. Kita tidak bisa
terus berdoa sambil menutup mata,” ujarnya.
Diskusi ini bukan hanya tentang Pilkada. Ini tentang
bagaimana iman diterjemahkan dalam tindakan. Tentang bagaimana gereja bukan
hanya tempat ibadah, tapi juga ruang pembentukan warga negara yang kritis dan
peduli.
Menjelang Pilkada serentak, umat Katolik diajak untuk tidak
golput, tidak apatis, dan tidak pragmatis. Karena memilih bukan sekadar hak,
tapi juga tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu harus dijalankan dengan
nurani, bukan amplop.
Jika kamu percaya bahwa iman dan demokrasi bisa berjalan
beriringan, bagikan kisah ini. Karena menjadi Katolik yang baik tak pernah
berarti menjadi warga negara yang pasif.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Advokat, Praktisi hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar