Pada Jumat, 15 Mei 2015, di Gedung Fransiskus Widya Mandala
Surabaya, Lidya Natalia Sartono, Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI, melantik
Dewan Pimpinan Cabang PMKRI Cabang Surabaya Sanctus Lucas. Tapi pelantikan ini
bukan sekadar seremoni. Ia adalah deklarasi: bahwa perubahan tidak datang dari
keluhan, tapi dari keberanian.
Acara dimulai dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Vikaris
Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Agustinus Tri Budi Utomo. Sebuah pengingat
bahwa spiritualitas bukan penghalang aktivisme, tapi fondasinya. Bahwa iman
bukan alasan untuk pasif, tapi alasan untuk peduli.
Lidya menegaskan bahwa PMKRI harus menjadi garda perubahan,
baik secara internal maupun dalam menyikapi kondisi bangsa. “Perubahan harus
diciptakan, bukan diratapi,” ujarnya. Sebuah kalimat yang lebih tajam dari
kritik, lebih dalam dari analisis.
PMKRI terus mendorong kaderisasi berjenjang, bukan hanya
dalam jumlah, tapi dalam kualitas. Karena pemimpin tidak lahir dari jabatan,
tapi dari pembinaan. Lidya menyebut bahwa kepengurusan cabang dan nasional
adalah simbol jati diri PMKRI. Bukan sekadar struktur, tapi cerminan nilai.
Yeremias Mahur, Ketua PMKRI Cabang Surabaya, menyebut
kepemimpinan sebagai panggilan. “Menjadi pemimpin bukan hanya soal kepercayaan,
tapi juga tantangan untuk menampilkan potensi diri,” ujarnya. Sebuah pernyataan
yang mengingatkan bahwa optimisme adalah bahan bakar perubahan.
Sebagai organisasi perjuangan, PMKRI tidak hanya bicara soal kampus, tapi juga soal bangsa. Yeri menegaskan pentingnya konsolidasi internal dan sinergi gerakan untuk memperkuat identitas. Dalam tahun politik, PMKRI memilih sikap kritis dan demokratis, bukan pragmatis.
Secara hukum, partisipasi mahasiswa dalam kehidupan politik
adalah hak yang dijamin oleh Pasal 28E UUD 1945. Tapi PMKRI melangkah lebih
jauh: bukan hanya menggunakan hak, tapi menghidupi etika. Karena demokrasi
tanpa etika adalah kebebasan tanpa arah.
PMKRI bukan ormas biasa. Ia adalah ruang pembinaan,
laboratorium kepemimpinan, dan medan perjuangan. Ia tidak hadir untuk menjadi
penonton sejarah, tapi penulisnya. Dan dalam pelantikan yang dihadiri WKRI,
Pemuda Katolik, GMNI, GMKI, PMII, KMHDI, dan BEM kampus, terlihat bahwa
perubahan tidak mengenal sekat.
Jika kamu percaya bahwa mahasiswa bukan sekadar agen
perubahan, tapi juga penjaga nilai, bagikan kisah ini. Karena bangsa besar
bukan dibangun oleh generasi yang pintar bicara, tapi oleh generasi yang berani
bertindak.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Advokat, Praktisi hukum dan aktivis sosial
kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar