Kamis, 11 Juni 2020

Ketika Gereja Bertemu Balai Kota; FMKI dan Misi Membangun Medan dari Dalam

Walikota Medan, Dzulmi Eldin, berfoto bersama Mgr AB Sinaga OFMCap, Cosmas Batubara, dan para anggota FMKI Sumatera Utara di Kota Medan, Sabtu (9/5)

JANGKARKEADILAN, MEDAN –
 Di tengah deru pembangunan yang sering kali hanya terdengar di atas aspal dan beton, ada suara yang mengingatkan: kota bukan hanya soal jalan dan gedung, tapi juga soal jiwa. Dan pada malam Sabtu, 9 Mei 2015, di Medan, suara itu menggema dari podium Walikota dan altar umat.

Walikota Medan saat itu, Dzulmi Eldin, bukan sedang berkampanye. Ia sedang mengundang. Bukan untuk memilih, tapi untuk terlibat. Dalam pelantikan dan rapat kerja Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Sumatera Utara periode 2015–2020, Eldin menyampaikan ajakan yang tak biasa: “Umat Katolik jangan hanya besar secara jumlah, tapi juga berkualitas. Medan butuh kontribusi spiritual, bukan hanya statistik.”

Ajakan Eldin bukan basa-basi. Ia tahu, membangun kota bukan hanya soal anggaran, tapi juga soal nurani. Maka ia berharap FMKI menjadi mitra strategis dalam pembangunan spiritual masyarakat. Karena kota yang sehat bukan hanya yang bebas banjir, tapi juga yang bebas dari kebencian.

Dalam hukum tata negara, partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah hak sekaligus kewajiban. Pasal 28C ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dan memperjuangkan haknya secara kolektif dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Maka, ajakan Eldin bukan sekadar retorika, tapi penguatan konstitusi.

Ketua FMKI Sumut, Parlindungan Purba, menyambut ajakan itu dengan komitmen. Ia menegaskan bahwa FMKI siap menjadi mitra pemerintah dalam membangun mental dan spiritual masyarakat. Bukan untuk menggantikan negara, tapi untuk mengingatkan bahwa pembangunan tanpa nilai adalah kemajuan tanpa arah.

FMKI bukan ormas yang sibuk dengan atribut. Ia adalah simpul pertemuan antara iman dan kebijakan publik. Ia hadir bukan untuk menguasai, tapi untuk menginspirasi. Karena kota yang adil bukan dibangun oleh tangan-tangan kuat, tapi oleh hati-hati yang peduli.

Eldin menutup pidatonya dengan kalimat yang lebih puitis daripada politis: “Medan adalah rumah kita. Di sini kita tumbuh, tinggal, dan berlindung. Maka jagalah rumah ini, bukan hanya secara fisik, tapi juga suasana kekeluargaannya.”

Sebuah pesan yang sederhana, tapi dalam. Karena rumah yang rusak bisa diperbaiki dengan semen. Tapi rumah yang retak karena kebencian, hanya bisa disembuhkan dengan kasih.

Jika kamu percaya bahwa pembangunan bukan hanya soal jalan, tapi juga soal jalan hidup, bagikan kisah ini. Karena kota yang besar bukan dibangun oleh beton, tapi oleh nilai-nilai yang tak terlihat.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Advokat, Praktisi hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar