![]() |
Pada 6–7 Desember 2014, di Kampus Diklat Kemendagri
Kemang-Bogor, FMKI menggelar Rapat Kerja (Raker) bertema: “Menjadi tanda-tanda
harapan bagi yang miskin dan lemah.” Sebuah tema yang bukan sekadar slogan,
tapi panggilan untuk turun tangan, bukan hanya angkat tangan.
Raker diawali dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh RD.
Benyamin Sudarto, atau yang akrab disapa Romo Ben. Dalam kotbahnya, Romo Ben
menegaskan bahwa FMKI bukan sekadar forum diskusi, tapi perpanjangan tangan
iman dalam realitas sosial. “Seperti Yesus yang mengutus murid-Nya, FMKI harus
hadir di tengah masyarakat yang lemah dan tak berdaya,” ujarnya.
Dan ketika Keuskupan Bogor dipercaya menjadi tuan rumah
Pertemuan Nasional FMKI tahun 2016, Romo Ben mengingatkan: “Kita butuh
orang-orang yang punya panggilan khusus dalam pelayanan masyarakat. Bukan hanya
pintar bicara, tapi siap bekerja.”
Dalam dunia yang gemar menyebut politik sebagai kotor, Romo
Ben justru mengajak umat Katolik untuk terlibat. “Jangan mandeg, jangan puas
dengan diri sendiri. Politik itu bermartabat dan baik, jika dijalankan dengan
etika dan iman,” tegasnya.
Secara hukum, partisipasi warga negara dalam politik adalah
hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28 dan 27 ayat (1). Maka,
ajakan Romo Ben bukan sekadar seruan moral, tapi juga pengingat konstitusional:
bahwa orang beriman tidak boleh absen dalam urusan publik.
FMKI Bogor menjadi wadah sinergi antara awam dan organisasi
Katolik untuk berkiprah dalam politik praktis demi kesejahteraan umum. Bukan
untuk membentuk partai, tapi untuk membentuk karakter bangsa.
Romo Ben menutup dengan pesan yang menggugah: “FMKI adalah alat ketika para hirarki tidak bisa masuk dalam politik praktis. Maka awam harus bertindak, mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang injili demi kemanusiaan.”
Dalam konteks hukum dan demokrasi, FMKI adalah jembatan
antara iman dan kebijakan publik. Ia bukan oposisi, bukan koalisi, tapi
koreksi. Koreksi terhadap politik yang kehilangan nurani, dan harapan bagi
masyarakat yang kehilangan suara.
Jika kamu percaya bahwa politik bisa bermartabat, dan iman
bisa menjadi cahaya dalam ruang publik, bagikan kisah ini. Karena harapan tidak
lahir dari kekecewaan, tapi dari keberanian untuk terlibat.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Advokat, Praktisi hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar