Kamis, 11 Juni 2020

FMKI Tanjung Selor; Rumah Bersama, Bukan Panggung Politik


JANGKARKEADILAN, TANJUNG SELOR – Di tengah riuhnya panggung demokrasi yang sering kali lebih mirip pasar malam daripada ruang musyawarah, umat Katolik Keuskupan Tanjung Selor memilih jalur sunyi: musyawarah. Bukan untuk rebutan kursi, tapi untuk merajut simpul kebersamaan. Pada 27–28 Agustus lalu, 15 paroki berkumpul dalam Musyawarah Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Kalimantan Utara. Mereka tidak datang membawa bendera, tapi membawa harapan.

FMKI bukan partai politik. Ia bukan ormas dengan kartu anggota dan struktur komando. Ia adalah rumah bersama, tempat berteduh bagi siapa saja yang peduli pada martabat manusia, keadilan sosial, dan demokrasi yang bermoral. Seperti yang ditegaskan oleh Ketua Panitia Musyawarah, Alberthus SM Baya, FMKI adalah simpul pertemuan, bukan simpul kekuasaan.

Dalam sejarahnya, FMKI lahir dari sarasehan umat Katolik tahun 1998 di Jakarta, dengan satu tekad: tidak akan melebur ke dalam partai politik seperti era 1945–1950. Karena politik yang baik bukan soal partai, tapi soal etika. Dan etika tidak butuh panggung, ia hanya butuh komitmen.

Pastor FX Wahyu Tri Wibowo Pr, Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Tanjung Selor, menyebut FMKI sebagai ruang dialog. Di tengah masyarakat yang makin plural, dialog bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. FMKI hadir sebagai wadah untuk menyatukan perbedaan, bukan menegaskan dominasi. Karena gereja bukan menara gading, tapi pelabuhan bagi yang mencari keadilan.

Visi FMKI jelas: masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi martabat manusia, demokratis, dan menjamin kepastian hukum. Maka, FMKI bukan sekadar forum diskusi, tapi juga pengingat bahwa hukum harus berpihak pada yang lemah, bukan pada yang berkuasa. Bahwa pembangunan daerah bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal integritas.

Markus Juk, anggota DPRD Bulungan, memberi apresiasi atas musyawarah ini. Ia berharap umat Katolik di Kaltara bersatu membangun daerah. Tapi pembangunan yang dimaksud bukan sekadar jalan dan jembatan, melainkan jembatan antar hati, antar keyakinan, antar generasi.

FMKI menaruh harapan besar pada generasi muda Katolik. Bukan untuk menjadi politisi, tapi untuk menjadi pelayan masyarakat. Bukan untuk mengejar popularitas, tapi untuk menghidupi spiritualitas. Karena masa depan bukan diwariskan, tapi diperjuangkan. Dan perjuangan itu dimulai dari kesadaran bahwa politik tanpa etika adalah kekosongan yang bersuara.

Jika kamu percaya bahwa perubahan dimulai dari ruang dialog, bukan ruang debat, bagikan kisah ini. Karena rumah bersama tak dibangun dengan batu, tapi dengan komitmen dan cinta pada sesama.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Advokat, Praktisi hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar