PMKRI, Pemuda Katolik, ISKA, WKRI, FMKI, dan Vox Point
Indonesia menyatukan suara dalam satu seruan: Pilkada bukan sekadar pemilihan,
tapi peradaban. Dibacakan oleh Joanes Joko, Sekjen PP ISKA, seruan itu
mengingatkan bahwa Pilkada adalah jalan menuju cita-cita nasional, bukan arena
adu kuasa yang mengorbankan nurani.
“Politik uang dan intimidasi adalah racun peradaban,” tegas
mereka. Dalam demokrasi, suara rakyat adalah doa yang tak boleh dibeli atau
ditakuti.
Lima Seruan, Lima Pilar Demokrasi Bermartabat
- Pilkada
adalah sarana membangun peradaban berdasarkan Pancasila. Bukan sekadar memilih pemimpin, tapi memilih arah
bangsa.
- Aktivis
Katolik diminta aktif dalam seluruh tahapan Pilkada. Dari kampanye hingga pengawasan, iman harus hadir
dalam tindakan.
- Ajak
keluarga dan tetangga untuk memilih dengan gembira. Jangan takut, jangan apatis. Karena suara kita adalah
suara masa depan.
- Awasi
dan kawal proses Pilkada.
Laporkan kecurangan, lawan intimidasi. Demokrasi bukan tontonan, tapi
tanggung jawab.
- Pilih
calon yang menjaga keadaban publik dan nilai-nilai kebangsaan. NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan
sekadar slogan, tapi komitmen.
Joanes Joko menutup dengan elegi kebangsaan: “Perbedaan
pilihan bukan alasan untuk permusuhan. Bangsa ini telah menanggung kerugian
besar karena kebencian yang tumbuh dari politik.”
Di tengah riuhnya kampanye, di antara baliho dan
janji-janji, suara dari Cikini mengingatkan kita bahwa demokrasi bukan hanya
soal menang dan kalah. Tapi soal menjaga keutuhan, menghormati perbedaan, dan
menyalurkan suara dengan hati yang jernih.
Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa organisasi keagamaan
bicara politik?” Jawabannya sederhana: karena politik tanpa moral adalah
panggung sandiwara. Dan ketika nurani tak lagi bicara, maka demokrasi hanya
akan menjadi ritual lima tahunan yang kehilangan makna.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar