Awalnya, lokasi direncanakan di Cibubur. Namun, setelah
diskusi intensif, panitia memutuskan pindah ke Hotel Bintang Raya, Cipanas. “Sudah
dipastikan,” kata Elisabeth Setyaningsih, Ketua Panitia Pernas FMKI ke-X, dalam
rapat internal. Seolah-olah tempat pun harus disucikan dari keraguan, agar
semangat anti korupsi tak tercemar oleh kompromi.
Antusiasme peserta luar biasa. Kuota 160 orang sudah
terpenuhi, bahkan harus dibatasi. Dari Sabang sampai Merauke, dari tamu hingga
pemantau, semua datang bukan untuk berlibur, tapi untuk bersuara. “Bahkan ada
beberapa yang kita tolak,” ujar Elisabeth. Sebuah ironi: dalam pertemuan
melawan korupsi, kuota pun harus dijaga agar tak berlebih.
Dana, transportasi, dan logistik sudah beres. Yang tersisa hanya koordinasi penjemputan. Pesawat, kereta, dan harapan akan tiba bersamaan. Panitia bersiap di berbagai titik, seolah menyambut para pejuang nurani.
Pernas ini bukan sekadar forum. Ini adalah panggilan moral.
Gereja, sebagai bagian dari NKRI, tak bisa diam melihat korupsi yang kini tak
lagi malu-malu. Dari ruang rapat hingga ruang sidang, dari proyek hingga
pengadaan, korupsi menjelma menjadi budaya. Maka FMKI mengajak umat Katolik
untuk membangun habitus, bukan hanya hasrat, melawan korupsi.
Di negeri yang kadang lebih takut pada dosa pribadi daripada
dosa publik, korupsi sering dianggap sebagai “kesalahan teknis.” Tapi FMKI
bicara lain. Mereka bicara tentang peradaban yang rusak, tentang generasi yang
kehilangan harapan, tentang bangsa yang dibajak oleh mereka yang rakus.
Dan di Cipanas, Gereja memilih bicara. Bukan dengan khotbah,
tapi dengan aksi. Bukan dengan dogma, tapi dengan seruan.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar