Kamis, 11 Juni 2020

“Di Cipanas, Gereja Bicara Korupsi; Pernas FMKI dan Habitus Perlawanan”


JANGKARKEADILAN, DEPOK –  Di tengah sejuknya udara Cipanas, Bogor, pada 25–27 November 2016, bukan hanya embun yang turun dari langit. Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) menggelar Pertemuan Nasional ke-X, dan kali ini, Gereja tidak hanya bicara iman, tapi juga perlawanan. Tema yang diusung: “Memperkuat Habitus Anti Korupsi bagi Keberlanjutan dan Kemajuan Peradaban Bangsa Indonesia.”

Awalnya, lokasi direncanakan di Cibubur. Namun, setelah diskusi intensif, panitia memutuskan pindah ke Hotel Bintang Raya, Cipanas. “Sudah dipastikan,” kata Elisabeth Setyaningsih, Ketua Panitia Pernas FMKI ke-X, dalam rapat internal. Seolah-olah tempat pun harus disucikan dari keraguan, agar semangat anti korupsi tak tercemar oleh kompromi.

Antusiasme peserta luar biasa. Kuota 160 orang sudah terpenuhi, bahkan harus dibatasi. Dari Sabang sampai Merauke, dari tamu hingga pemantau, semua datang bukan untuk berlibur, tapi untuk bersuara. “Bahkan ada beberapa yang kita tolak,” ujar Elisabeth. Sebuah ironi: dalam pertemuan melawan korupsi, kuota pun harus dijaga agar tak berlebih.

Dana, transportasi, dan logistik sudah beres. Yang tersisa hanya koordinasi penjemputan. Pesawat, kereta, dan harapan akan tiba bersamaan. Panitia bersiap di berbagai titik, seolah menyambut para pejuang nurani.

Pernas ini bukan sekadar forum. Ini adalah panggilan moral. Gereja, sebagai bagian dari NKRI, tak bisa diam melihat korupsi yang kini tak lagi malu-malu. Dari ruang rapat hingga ruang sidang, dari proyek hingga pengadaan, korupsi menjelma menjadi budaya. Maka FMKI mengajak umat Katolik untuk membangun habitus, bukan hanya hasrat, melawan korupsi.

Di negeri yang kadang lebih takut pada dosa pribadi daripada dosa publik, korupsi sering dianggap sebagai “kesalahan teknis.” Tapi FMKI bicara lain. Mereka bicara tentang peradaban yang rusak, tentang generasi yang kehilangan harapan, tentang bangsa yang dibajak oleh mereka yang rakus.

Dan di Cipanas, Gereja memilih bicara. Bukan dengan khotbah, tapi dengan aksi. Bukan dengan dogma, tapi dengan seruan.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar