Rapat Kerja (Raker) FMKI Keuksupan Bogor, yang telah berlangsung pada tanggal 6-7 Desember 2014 di Kampus Diklat Kemendagri Kemang-Bogor yang bertemakan: “Menjadi tanda-tanda harapan bagi yang miskin dan lemah” menyisahkan banyak pekerjaan rumah (PR).
RD. Mikail Endro Susanto, dalam kotbah misa hari kedua
Raker, menyulut bara kesadaran: “FMKI adalah perpanjangan tangan Tuhan.” Maka
tangan itu harus menyentuh yang lemah, bukan sekadar mengangkat lilin. Gereja,
katanya, harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di tengah liturgi.
Ia tak sedang berpuisi, tapi menyampaikan mandat kenabian.
Yohanes Pembaptis tak menyerah meski kepalanya dipenggal. Maka FMKI pun tak
boleh menyerah meski dihadang apatisme, birokrasi, dan kadang... gereja itu
sendiri.
Pekerjaan rumah FMKI bukanlah menyusun proposal, tapi
menyusun keberanian. Edukasi dan advokasi terhadap semua sektor
kehidupan—sosial, ekonomi, hukum, HAM, lingkungan—harus dilakukan dengan
konsistensi, bukan hanya intensitas sesaat. Dan syukur, jika hasilnya bisa
dirasakan langsung oleh mereka yang selama ini hanya jadi objek doa, bukan
subjek kebijakan.
FMKI Bogor juga bersiap menjadi tuan rumah Pertemuan
Nasional FMKI 2016. Tapi sebelum menyambut tamu dari seluruh Indonesia, mereka
harus menyambut realitas di halaman sendiri. Sebab keadilan bukan datang dari
luar, tapi tumbuh dari dalam.
Romo Endro, Ketua Komisi HAAK, menyampaikan pesan yang menggugah: “Biarlah gereja Katolik menjadi induk berkumpul.” Sebuah metafora yang menolak eksklusivitas. Gereja bukan benteng, tapi pelindung. Bukan menara gading, tapi rumah singgah bagi yang lelah.
Misi pelayanan bukan hanya milik uskup dan imam, tapi tugas
bersama. FMKI harus menjadi pengaruh positif, bukan hanya simbol moral. Sebab
moral tanpa aksi hanyalah dekorasi.
JANGKARKEADILAN bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen
untuk tidak menyerah. Untuk terus berbuat, meski hasilnya belum terlihat. Untuk
menjadi gereja yang relevan, bukan hanya ritual. Untuk menjadi suara yang
berpihak, bukan netral dalam ketidakadilan.
Dalam hukum sosial, keadilan bukan hanya soal aturan, tapi
soal keberpihakan. FMKI Bogor sedang menambatkan jangkar di tengah badai.
Semoga jangkar itu cukup kuat untuk menahan kapal harapan agar tidak karam di
laut ketimpangan.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar