“Menjadi tanda-tanda harapan bagi yang miskin dan lemah” adalah tema yang diusung dalam pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Bogor, tanggal 6-7 Desember 2014.JANGKARKEADILAN, BOGOR – Di kampus Diklat Kemendagri yang biasanya dipenuhi aroma birokrasi, kali ini hadir 30-an wajah penuh harapan. Mereka bukan pejabat, bukan politisi, tapi pengurus FMKI dari berbagai paroki dan kabupaten/kota di Keuskupan Bogor. Mereka datang bukan untuk rapat anggaran, melainkan Rapat Kerja (Raker) yang dibuka dan ditutup dengan Misa Kudus—sebuah penanda bahwa pelayanan sosial bukan sekadar program, tapi panggilan iman.
Raker ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah
panggung kecil tempat suara-suara besar berkumandang. Anton Sulis, RD. Benyamin
Sudarto, RD. Paulus Haruna, RD. Mikail Endro Susanto, Yosefin Lely
Kusumaningsih, hingga Achmad Ubaidillah—semua hadir bukan untuk menggurui, tapi
menggugah.
Anton Sulis menegaskan: “Action itu jauh lebih penting.”
Sebuah kalimat sederhana, tapi mengandung kritik halus terhadap budaya rapat
yang gemar merumuskan tanpa melaksanakan. FMKI Depok, katanya, harus
diperdayakan hingga ke tingkat paroki. Sebab harapan tidak tumbuh di atas
kertas, tapi di tengah masyarakat.
RD. Mikail Endro dalam kotbahnya menyentil dengan lembut
tapi tajam: “FMKI adalah perpanjangan tangan Tuhan.” Maka, tangan itu harus
menyentuh yang miskin dan lemah, bukan hanya mengangkat lilin di altar. Gereja,
katanya, harus hadir di jalanan, di pasar, di ruang-ruang publik tempat
suara-suara kecil sering tenggelam.
RD. Benyamin Sudarto menambahkan dimensi politik. Ia tidak
meminta para imam turun gelanggang, tapi mendorong umat untuk tidak alergi
terhadap politik praktis. “Politik itu bermartabat,” katanya. Sebuah pernyataan
yang menampar lembut mereka yang masih menganggap politik sebagai lumpur.
Raker ini merumuskan program kerja yang tidak hanya idealis, tapi juga realistis. Isu sosial, ekonomi, hukum, HAM, lingkungan hidup—semua masuk dalam daftar. FMKI Bogor ingin menjadi tanda harapan, bukan sekadar simbol. Mereka ingin mengadvokasi, mengedukasi, dan menggerakkan.
Namun, seperti biasa, tantangan datang bukan dari luar, tapi
dari dalam. Anton Sulis menyebut “apatisme umat” sebagai kendala utama. Sebuah
penyakit sosial yang tidak bisa disembuhkan dengan seminar, tapi dengan kesetiaan.
“Kesetiaan adalah solusi,” katanya. Sebuah kalimat yang terdengar puitis, tapi
juga sangat praktis.
Pasca Raker, FMKI Bogor tidak ingin kembali tidur. Mereka
ingin bergerak, bukan hanya dari inisiatif ketua, tapi dari seluruh anggota.
Mereka ingin menanam akar di daerah, membangun relasi, dan menjadi gereja yang
relevan. Bukan gereja yang hanya bicara moral, tapi gereja yang menjadi moral
itu sendiri.
Dalam hukum organisasi sosial, partisipasi adalah nyawa. Tanpa keterlibatan, forum menjadi fosil. FMKI Bogor sedang berusaha menjadi organisme hidup—bergerak, bernafas, dan berdampak. Semoga gerakan ini tidak berhenti di ruang Diklat, tapi menjalar ke lorong-lorong masyarakat.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar