JANGKARKEADILAN, BOGOR – Di tanah Sunda, hidup rukun bukan sekadar ajaran, tapi napas. “Kawas gula jeung peueut,” kata orang tua kita—manis dan lekat, saling menyayangi, tak pernah berselisih. Tapi kini, di antara gemuruh takbir dan teriakan “takfiri,” prinsip itu mulai retak. Bukan karena ajaran Islam, tapi karena mereka yang mengklaim sebagai penjaga akidah, namun lupa bahwa kasih sayang adalah inti dari iman.
Pada 6 Desember 2014, di Kampus Diklat Kemendagri, Kemang,
Bogor, suara lantang menggema dari podium Rapat Kerja FMKI Keuskupan Bogor.
Bukan suara politisi, bukan pula suara pemuka agama yang sedang berkhotbah.
Tapi suara seorang akademisi, Achmad Ubaidillah, Direktur Pusat Studi Pesantren
Al Falaq, yang menyuarakan keresahan tentang pluralisme yang terancam di Tatar
Sunda.
Ia menyebutnya “mayotariatisme yang salah”—sebuah mantra
sosial yang menyimpan luka. Ketika status mayoritas dijadikan alat dominasi,
bukan pelindung keberagaman. Ketika masjid berubah menjadi panggung agitasi,
bukan ruang suci. Ketika hukum diam, dan masyarakat sipil dipaksa menjadi
benteng terakhir.
FPI, GARIS, HASMI, GARDAH, Koalisi Anti Pemurtadan—nama-nama yang sering muncul dalam laporan intoleransi. Mereka mengklaim membela Islam, tapi lupa bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, bukan ketakutan lil masyarakat. Mereka mengaku menjaga akidah, tapi lupa bahwa akidah tanpa kasih adalah kekerasan yang dibungkus dalil.
Sebagai orang Sunda yang juga Muslim, kita berhak bertanya:
di mana “kawas gula jeung peueut” dalam aksi sweeping, pengusiran, dan
pelarangan ibadah? Di mana rukun dan silih asih dalam ancaman terhadap
minoritas?
Dalam hukum sosial, pluralisme bukan sekadar toleransi, tapi
keberanian untuk melawan dominasi. Ketika mayoritas menjadi alat penindasan,
maka hukum harus menjadi pelindung, bukan penonton. Negara tak boleh diam. NU
dan Muhammadiyah tak boleh pasif. Masyarakat sipil harus bangkit, bukan hanya
menggelar seminar, tapi membangun solidaritas lintas iman.
Ubaidillah menawarkan solusi: khutbah perdamaian. Masjid
harus kembali menjadi ruang spiritual, bukan ruang agitasi. Tempat ibadah bukan
panggung politik, tapi taman kasih. Sebab kekerasan bukan produk agama, tapi
ideologi yang bisa lahir dari siapa saja.
“Kehidupan bersama
adalah kebutuhan,” kata Ubaidillah. Sebuah kalimat sederhana, tapi mengandung
revolusi. Generasi muda harus membangun jembatan, bukan tembok. Islam, Kristen,
Hindu, Buddha—semua mengajarkan kasih, bukan kebencian. Maka, tugas kita bukan
saling menyalahkan, tapi saling menyadarkan.
Silaturahmi lintas iman bukan utopia, tapi warisan.
Kemerdekaan Indonesia diraih oleh semua unsur agama. Maka, intoleransi bukan
hanya pengkhianatan terhadap konstitusi, tapi terhadap sejarah. Dan sejarah itu
bukan untuk dipajang, tapi untuk dijaga.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar