
JANGKARKEADILAN, KOTA DEPOK – Di altar kehidupan, keluarga adalah sakramen pertama. Tempat di mana cinta, iman, dan harapan dirajut sejak dini. Namun kini, di pengujung zaman yang penuh gempuran, benteng itu mulai retak. Bukan karena badai besar, tapi karena gerimis kecil yang dibiarkan masuk: ego, kesibukan, dan lupa akan doa.
Dalam berbagai pertemuan pastoral, satu kecemasan terus
bergema: generasi muda kehilangan arah. Bukan karena mereka tak tahu, tapi
karena tak diajak tahu. Anak-anak dianggap terlalu kecil untuk berdoa, terlalu
muda untuk mengenal Yesus, terlalu ribut untuk duduk di bangku gereja. Maka
mereka dibiarkan di luar, sementara orang dewasa khusyuk di dalam. Ironis,
bukan?
Padahal, iman bukan warisan genetik, tapi warisan kebiasaan.
Jika anak tak dibiasakan berdoa sejak dalam kandungan, bagaimana mungkin ia
akan berlutut di hadapan Tuhan saat dewasa?
Pertengkaran suami-istri bukan hal baru. Tapi ketika cinta
yang dulu menyala kini tinggal abu, kita harus bertanya: di mana Tuhan dalam
rumah tangga kita? Banyak keluarga Kristiani berada di ambang kehancuran. Bukan
karena kurang cinta, tapi karena kurang doa. Kurang komunikasi. Kurang
kesadaran bahwa keluarga adalah Gereja kecil.
Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Bogor, pernah
berkata, “Tidak ada Gereja tanpa keluarga.” Maka, jika keluarga hancur, Gereja
pun akan goyah. Ini bukan sekadar urusan pribadi, tapi urusan pastoral. Urusan
hukum sosial Gereja.
Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2010 mengangkat tema “Memperkenalkan Kitab Suci Kepada Anak-Anak Sejak Dini.” Sebuah ajakan yang sayangnya sering diabaikan. Kitab Suci hanya dibuka saat misa, bukan saat makan malam. Padahal, membacakan kisah Yesus kepada anak-anak adalah cara terbaik menanamkan nilai: kejujuran, disiplin, cinta lingkungan, pengendalian diri.
Jika kita tak membiasakan anak bergelut dengan Kitab Suci,
maka mereka akan tumbuh dengan Kitab Dunia: media sosial, sinetron, dan
algoritma. Dan kita akan kehilangan generasi yang tahu siapa Yesus, tapi tak
mengenal-Nya.
YB. Ruslan, ayah dari tujuh anak, memberi teladan. Ia
mengajarkan doa, tanda salib, dan sikap hormat sejak anak-anaknya masih dalam
kandungan. Hasilnya? Anak-anak bisa tenang di gereja, bukan karena mereka tahu
teologi, tapi karena mereka tahu sikap iman.
Kita perlu membedakan antara pengetahuan iman dan sikap
iman. Pengetahuan bisa diajarkan di sekolah. Tapi sikap? Hanya bisa diwariskan
di rumah.
Dalam banyak keluarga, doa masih dipimpin oleh “yang
dianggap mampu”—biasanya ayah atau ibu. Anak-anak hanya penonton. Bahkan dalam
lingkungan paroki, yang aktif itu lagi… itu lagi. Yang lain takut terlibat,
karena khawatir diberi tugas. Padahal, banyak yang berpotensi, tapi tak pernah
diberi panggung.
Ini bukan hanya soal budaya, tapi soal hukum partisipasi
dalam Gereja. Jika Gereja ingin hidup, maka semua harus diberi ruang. Termasuk
anak-anak. Termasuk mereka yang dianggap “belum tahu.”
Jika kita ingin menyelamatkan Gereja, kita harus menyelamatkan
keluarga. Jika kita ingin membina generasi muda, kita harus membina ruang tamu
kita. Sebab iman bukan dimulai dari altar, tapi dari meja makan. Dari pelukan
sebelum tidur. Dari doa sederhana yang diucapkan dengan cinta.
Dan jika kita gagal, maka si iblis akan tertawa. Sebab ia
tahu, kehancuran Gereja dimulai dari keretakan keluarga.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar