
JANGKARKEADILAN, PAPUA – Di ujung timur negeri ini, di antara lembah-lembah hijau dan langit yang biru pekat, Presiden Joko Widodo melangkah ke Tanah Papua. Bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pendengar. Bukan membawa proyek, tapi membawa janji: dialog.
Jayapura, Sentani, Wamena, Sorong,
Biak—nama-nama yang selama ini lebih sering muncul dalam berita konflik, kini
menjadi saksi perayaan Natal nasional bersama Presiden. Tak ada suara sumbang.
Hanya tepuk tangan dan harapan yang menggema.
Presiden Jokowi menyampaikan sesuatu
yang belum pernah diucapkan oleh enam presiden sebelumnya: “Masalah utama di
Papua adalah tidak adanya saling percaya antara rakyat dan pemimpinnya.” Sebuah
pengakuan jujur, yang membuka pintu dialog bukan dengan protokol, tapi dengan
hati.
Jokowi tak datang membawa solusi
instan. Ia datang membawa telinga. “Rakyat Papua butuh didengarkan,” katanya.
Bukan hanya layanan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur. Tapi ruang
bicara. Ruang untuk mengungkapkan luka, harapan, dan masa depan.
Dan rakyat menyambutnya. Bukan karena Jokowi sempurna, tapi karena ia satu-satunya Presiden yang berjanji mengunjungi Papua tiga kali setahun. “Kalau kurang dari tiga kali, tegur saya,” katanya. Sebuah janji yang bukan basa-basi, tapi undangan untuk mengingatkan pemimpin agar tetap hadir.
Dalam hukum sosial, kepercayaan
adalah fondasi. Tanpa itu, kebijakan hanyalah kertas. Jokowi tahu itu. Maka ia
mendorong gubernur, pangdam, kapolda, dan bupati untuk berdialog. Bukan sekadar
rapat, tapi pertemuan hati.
Dialog ini harus inklusif. Dari
kampung hingga kota. Dari tokoh agama hingga pemuda. Dari mereka yang tinggal
di hutan hingga diaspora Papua di luar negeri. Semua harus diberi ruang. Sebab
Papua bukan milik satu kelompok, tapi milik semua yang mencintainya.
Jokowi tak menyapu luka di bawah
karpet. Ia mengakui kasus penembakan di Paniai, 8 Desember 2014, sebagai
tragedi. Ia menyampaikan penyesalan dan berjanji menyelesaikannya. “Yang
penting, kejadian seperti ini jangan terjadi lagi,” katanya.
Ini bukan sekadar retorika. Ini
adalah penegasan bahwa kekerasan bukan jalan. Bahwa Papua harus dibangun dengan
damai, bukan dengan senjata.
Para pemimpin agama di Papua telah
lama memimpikan Tanah Damai. Jokowi datang bukan untuk mengambil alih mimpi
itu, tapi untuk mendukungnya. Ia mengajak semua pihak bersatu. “Yang masih ada
di dalam hutan, yang masih berada di atas gunung-gunung, marilah kita
bersama-sama membangun Papua tanah yang damai.”
Ajakan ini bukan sekadar puisi
politik. Ini adalah undangan untuk membangun komunikasi politik yang melibatkan
semua pihak. Termasuk mereka yang selama ini merasa terpinggirkan.
Jokowi telah merebut kepercayaan
rakyat Papua. Tapi kepercayaan adalah utang yang harus dibayar dengan tindakan.
Dialog bukan hadiah, tapi hak. Dan hak itu harus dijamin oleh negara.
Jika dialog benar-benar dijalankan,
maka Papua akan menjadi contoh bahwa konflik bisa diselesaikan bukan dengan
kekuatan, tapi dengan keberanian untuk mendengar.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar