Kamis, 11 Juni 2020

IJ Kasimo; Pahlawan yang Tak Pernah Berteriak, Tapi Selalu Didengar

Foto IJ Kasimo Saat Diarak Menuju Meja Pembicara Saat Acara Seminar Memperkuat Karakter Bangsa pada hari Senin (6/2/2012) pukul 17.00 WIB di Auditorium Benedictus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Foto: Richard) 
JANGKARKEADILAN, SURABAYA – Di negeri yang gemar mengangkat pahlawan, kadang kita lupa bahwa kepahlawanan bukan soal sorotan kamera, melainkan soal karakter. Dan Ignatius Josef Kasimo Hendrowahyono—atau yang lebih akrab disapa IJ Kasimo—adalah bukti bahwa karakter bisa lebih tajam dari senjata, lebih abadi dari jabatan.

Pada 8 November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada IJ Kasimo. Bukan karena ia berteriak paling lantang, tapi karena ia berdiri paling teguh. Bukan karena ia memimpin pasukan, tapi karena ia memimpin nurani.

Enam Februari 2012, hujan deras mengguyur Surabaya. Tapi umat Katolik dan sahabat Gusdurian tetap datang ke Auditorium Benedictus Universitas Katolik Widya Mandala. Mereka tidak datang untuk pesta. Mereka datang untuk syukur. Untuk mengenang seorang politisi yang lebih memilih kejujuran daripada kekuasaan.

Misa syukur dipimpin oleh Uskup Surabaya, Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Dalam homilinya, beliau mengingatkan: “Teladanilah Kasimo, tapi jangan lupa meneladani Yesus.” Sebuah pesan sederhana, namun dalam: bahwa karakter bukan sekadar warisan, tapi panggilan.

Setelah misa dan pemotongan tumpeng, seminar bertajuk “Memperkuat Karakter Bangsa” digelar. Dr. J. Kristiadi dan Yudi Latif, dua pemikir bangsa, bicara tentang karakter yang hilang dari politik kita.

Kristiadi menyebut bahwa elite politik kini lebih gemar menyalahgunakan Pancasila daripada mengamalkannya. “Pancasila jadi mantra kosong,” katanya. “Yang dibutuhkan adalah kejujuran, empati, dan pengorbanan—karakter yang dimiliki Kasimo.”

Yudi Latif menambahkan bahwa Kasimo adalah jembatan antar keberagaman. Ia tidak menjadikan negara milik satu kelompok, tapi milik semua. “Ketuhanan yang berkebudayaan, sosio-nasionalisme, dan keadilan sosial—itulah karakter Kasimo,” tegasnya.

Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan. Ia adalah pengingat bahwa hukum harus berpihak pada karakter, bukan pada kekuasaan. IJ Kasimo adalah contoh bahwa politik bisa bermartabat, bahwa hukum bisa berwajah manusia.

Dalam konteks hukum, karakter Kasimo adalah antitesis dari korupsi, nepotisme, dan politik identitas. Ia adalah bukti bahwa hukum tidak harus bengis untuk tegas, tidak harus keras untuk adil.

Kristiadi menutup seminar dengan pesan tajam: “Pemuda Katolik harus menolak godaan kekuasaan dan popularitas.” Sebuah pesan yang seharusnya menjadi kompas moral, bukan hanya bagi pemuda Katolik, tapi bagi seluruh generasi muda Indonesia.

Karakter Kasimo bukan untuk dipajang, tapi untuk dihidupi. Ia bukan legenda, ia adalah pelajaran.

Jika kamu percaya bahwa karakter lebih penting dari citra, bagikan kisah ini. Karena bangsa besar bukan dibangun oleh pahlawan yang dielu-elukan, tapi oleh karakter yang diam-diam bekerja.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Pemerhati hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar