Pada 8 November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada IJ Kasimo. Bukan karena ia
berteriak paling lantang, tapi karena ia berdiri paling teguh. Bukan karena ia
memimpin pasukan, tapi karena ia memimpin nurani.
Enam Februari 2012, hujan deras mengguyur Surabaya. Tapi
umat Katolik dan sahabat Gusdurian tetap datang ke Auditorium Benedictus
Universitas Katolik Widya Mandala. Mereka tidak datang untuk pesta. Mereka
datang untuk syukur. Untuk mengenang seorang politisi yang lebih memilih
kejujuran daripada kekuasaan.
Misa syukur dipimpin oleh Uskup Surabaya, Msgr. Vincentius
Sutikno Wisaksono. Dalam homilinya, beliau mengingatkan: “Teladanilah Kasimo,
tapi jangan lupa meneladani Yesus.” Sebuah pesan sederhana, namun dalam: bahwa
karakter bukan sekadar warisan, tapi panggilan.
Setelah misa dan pemotongan tumpeng, seminar bertajuk “Memperkuat Karakter Bangsa” digelar. Dr. J. Kristiadi dan Yudi Latif, dua pemikir bangsa, bicara tentang karakter yang hilang dari politik kita.
Kristiadi menyebut bahwa elite politik kini lebih gemar
menyalahgunakan Pancasila daripada mengamalkannya. “Pancasila jadi mantra
kosong,” katanya. “Yang dibutuhkan adalah kejujuran, empati, dan
pengorbanan—karakter yang dimiliki Kasimo.”
Yudi Latif menambahkan bahwa Kasimo adalah jembatan antar
keberagaman. Ia tidak menjadikan negara milik satu kelompok, tapi milik semua.
“Ketuhanan yang berkebudayaan, sosio-nasionalisme, dan keadilan sosial—itulah
karakter Kasimo,” tegasnya.
Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan. Ia adalah
pengingat bahwa hukum harus berpihak pada karakter, bukan pada kekuasaan. IJ
Kasimo adalah contoh bahwa politik bisa bermartabat, bahwa hukum bisa berwajah
manusia.
Dalam konteks hukum, karakter Kasimo adalah antitesis dari
korupsi, nepotisme, dan politik identitas. Ia adalah bukti bahwa hukum tidak
harus bengis untuk tegas, tidak harus keras untuk adil.
Kristiadi menutup seminar dengan pesan tajam: “Pemuda
Katolik harus menolak godaan kekuasaan dan popularitas.” Sebuah pesan yang
seharusnya menjadi kompas moral, bukan hanya bagi pemuda Katolik, tapi bagi
seluruh generasi muda Indonesia.
Karakter Kasimo bukan untuk dipajang, tapi untuk dihidupi.
Ia bukan legenda, ia adalah pelajaran.
Jika kamu percaya bahwa karakter lebih penting dari citra,
bagikan kisah ini. Karena bangsa besar bukan dibangun oleh pahlawan yang
dielu-elukan, tapi oleh karakter yang diam-diam bekerja.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Pemerhati hukum dan aktivis sosial kemasyarakatan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar