![]() |
Bupati Toba Samosir, Pandapotan Kasmin Simanjuntak, melalui
sambutan tertulisnya, menyambut FMKI sebagai mitra pemerintah. Sebuah pengakuan
bahwa spiritualitas tak hanya milik gereja, tapi juga milik bangsa.
FMKI lahir bukan dari ambisi, tapi dari panggilan. Deklarasi
yang dibacakan Ir. Viktor Silalahi bersama tiga paroki di Toba Samosir
menegaskan: organisasi ini berdiri di atas nilai kemanusiaan dan keadilan
sebagai perwujudan iman Katolik. Bukan untuk bersaing, tapi untuk bersinergi.
“In Principiis Unitas, In Dubiis Libertas, In Omnibus
Caritas” — dalam prinsip, kita bersatu; dalam keraguan, kita bebas; dalam
segala hal, kita berkasih. Sebuah semboyan yang lebih dalam dari sekadar jargon
organisasi. Ia adalah konstitusi moral.
FMKI bukan lembaga keagamaan, tapi juga bukan partai
politik. Ia berada di tengah: sebagai mitra hirarki Gereja dan mitra
pemerintah. Dalam hukum, ini disebut sebagai civil society actor —
entitas yang menjembatani suara rakyat dengan kebijakan negara.
Ketua FMKI Sumut, Parlindungan Purba, SH, MM, menegaskan
peran strategis FMKI: ikut serta dalam pembangunan, menjaga moral publik, dan
memerangi penyalahgunaan narkoba. “FMKI harus berada di garda terdepan,”
katanya. Sebuah panggilan yang tak bisa ditolak.
Parlindungan menyoroti penyalahgunaan narkoba sebagai
ancaman sosial yang menggerogoti bangsa. Tapi lebih dari itu, ia juga
mengingatkan bahwa demokrasi bisa rusak jika masyarakat diam. FMKI diminta
untuk tidak hanya berdoa, tapi juga bertindak.
Dalam hukum, partisipasi publik adalah elemen kunci
demokrasi. Dan FMKI, dengan akar spiritualnya, bisa menjadi kekuatan moral yang
mengingatkan negara agar tak lupa pada rakyatnya.
Tema kegiatan ini adalah “Kelahiran FMKI sebagai Proses
Pendewasaan Kerasulan Awam.” Tapi lebih dari itu, FMKI adalah proses
pendewasaan kewarganegaraan. Ketika umat Katolik tak hanya menjadi warga
gereja, tapi juga warga negara yang aktif, kritis, dan peduli.
Robert “Kempes” Pardede, Ketua Panitia, menyebut FMKI sebagai wadah untuk memahami keadaan sosial-politik. Sebuah pernyataan yang mengubah cara pandang: bahwa iman tak hanya untuk keselamatan pribadi, tapi juga untuk keadilan publik.
Pelantikan FMKI Toba Samosir bukan sekadar acara lokal. Ia
adalah pesan nasional: bahwa masyarakat sipil berbasis iman bisa menjadi mitra
negara dalam membangun bangsa. Bahwa kasih bisa menjadi landasan demokrasi.
Bahwa spiritualitas bisa menjadi kekuatan hukum.
Karena dalam dunia yang semakin gaduh, suara yang tenang
dari Balige bisa menjadi nyanyian harapan:
Bahwa Indonesia masih punya ruang untuk kasih, keadilan, dan kebersamaan.
Adv. Darius Leka,
S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar