Kamis, 11 Juni 2020

FMKI Toba Samosir; Ketika Kasih Menjadi Pilar Demokrasi


JANGKARKEADILAN, SAMOSIR – Di Balige, kota kecil yang tenang di tepian Danau Toba, gema demokrasi tak hanya datang dari mimbar politik, tapi dari altar umat. Sabtu, 4 Agustus, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Toba Samosir resmi dilantik. Bukan sekadar seremoni, tapi sebuah deklarasi iman yang berani menyeberang ke ranah sosial-politik.

Bupati Toba Samosir, Pandapotan Kasmin Simanjuntak, melalui sambutan tertulisnya, menyambut FMKI sebagai mitra pemerintah. Sebuah pengakuan bahwa spiritualitas tak hanya milik gereja, tapi juga milik bangsa.

FMKI lahir bukan dari ambisi, tapi dari panggilan. Deklarasi yang dibacakan Ir. Viktor Silalahi bersama tiga paroki di Toba Samosir menegaskan: organisasi ini berdiri di atas nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai perwujudan iman Katolik. Bukan untuk bersaing, tapi untuk bersinergi.

“In Principiis Unitas, In Dubiis Libertas, In Omnibus Caritas” — dalam prinsip, kita bersatu; dalam keraguan, kita bebas; dalam segala hal, kita berkasih. Sebuah semboyan yang lebih dalam dari sekadar jargon organisasi. Ia adalah konstitusi moral.

FMKI bukan lembaga keagamaan, tapi juga bukan partai politik. Ia berada di tengah: sebagai mitra hirarki Gereja dan mitra pemerintah. Dalam hukum, ini disebut sebagai civil society actor — entitas yang menjembatani suara rakyat dengan kebijakan negara.

Ketua FMKI Sumut, Parlindungan Purba, SH, MM, menegaskan peran strategis FMKI: ikut serta dalam pembangunan, menjaga moral publik, dan memerangi penyalahgunaan narkoba. “FMKI harus berada di garda terdepan,” katanya. Sebuah panggilan yang tak bisa ditolak.

Parlindungan menyoroti penyalahgunaan narkoba sebagai ancaman sosial yang menggerogoti bangsa. Tapi lebih dari itu, ia juga mengingatkan bahwa demokrasi bisa rusak jika masyarakat diam. FMKI diminta untuk tidak hanya berdoa, tapi juga bertindak.

Dalam hukum, partisipasi publik adalah elemen kunci demokrasi. Dan FMKI, dengan akar spiritualnya, bisa menjadi kekuatan moral yang mengingatkan negara agar tak lupa pada rakyatnya.

Tema kegiatan ini adalah “Kelahiran FMKI sebagai Proses Pendewasaan Kerasulan Awam.” Tapi lebih dari itu, FMKI adalah proses pendewasaan kewarganegaraan. Ketika umat Katolik tak hanya menjadi warga gereja, tapi juga warga negara yang aktif, kritis, dan peduli.

Robert “Kempes” Pardede, Ketua Panitia, menyebut FMKI sebagai wadah untuk memahami keadaan sosial-politik. Sebuah pernyataan yang mengubah cara pandang: bahwa iman tak hanya untuk keselamatan pribadi, tapi juga untuk keadilan publik.

Pelantikan FMKI Toba Samosir bukan sekadar acara lokal. Ia adalah pesan nasional: bahwa masyarakat sipil berbasis iman bisa menjadi mitra negara dalam membangun bangsa. Bahwa kasih bisa menjadi landasan demokrasi. Bahwa spiritualitas bisa menjadi kekuatan hukum.

Karena dalam dunia yang semakin gaduh, suara yang tenang dari Balige bisa menjadi nyanyian harapan:
Bahwa Indonesia masih punya ruang untuk kasih, keadilan, dan kebersamaan.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar