Survei Gallup World Poll hanya mengajukan satu pertanyaan
sederhana: “Apakah Anda percaya kepada pemerintah nasional?” Tapi jawaban
rakyat Indonesia menjelma menjadi deklarasi: bahwa di balik birokrasi dan
regulasi, masih ada ruang bagi kepercayaan.
Pada 2007, angka itu hanya 52 persen. Kini, melonjak menjadi
80 persen. Sebuah lompatan yang tak hanya mencerminkan kinerja, tapi juga
narasi politik yang berhasil menyentuh hati rakyat.
Amerika Serikat hanya mencatat 30 persen. Inggris 31 persen.
Prancis bahkan lebih rendah: 28 persen. Di tengah negara-negara maju yang
meragukan pemerintahnya sendiri, Indonesia justru berdiri tegak, percaya.
Apakah ini ironi? Atau justru bukti bahwa kepercayaan tak
selalu lahir dari kemakmuran, tapi dari kedekatan emosional antara rakyat dan
pemimpinnya?
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyambut baik hasil survei
ini. Menurutnya, kepercayaan adalah bahan bakar efektivitas kebijakan. Ketika
pemerintah dianggap adil, cepat tanggap, dan mampu melindungi, maka rakyat pun
bersedia berjalan bersama.
“Integritas moral adalah fondasi kepercayaan,” ujarnya.
Sebuah kalimat yang terdengar seperti mantra, di tengah dunia yang sering
kehilangan arah.
Tapi mari kita jujur. Kepercayaan bukanlah angka mati. Ia bisa berubah, bisa goyah, bisa hilang. Ia adalah kontrak sosial yang harus diperbarui setiap hari. Pemerintah tak cukup hanya dipercaya, ia harus terus membuktikan diri.
Dan rakyat? Mereka tak hanya percaya, mereka juga mengawasi.
Sebab kepercayaan tanpa kontrol adalah candu, bukan kemajuan.
Indonesia hari ini adalah cermin. Cermin bagi dunia bahwa
kepercayaan bisa tumbuh di tanah yang dulu penuh luka. Tapi cermin juga bisa
retak. Maka, pemerintah harus menjaga pantulan itu tetap jernih.
Karena di negeri ini, kepercayaan bukan sekadar angka. Ia
adalah puisi yang ditulis rakyat, setiap kali mereka berkata: “Kami percaya.”
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar