Lidya Natalia Sartono, mantan Ketum PP PMKRI dan kini Sekjen
Vox Point Indonesia, mengaku sedih. “Masih ada kaum muda yang belum tahu
tentang Pancasila dan tanggal lahirnya,” keluhnya. Ironis. Di negeri yang
katanya berlandaskan Pancasila, justru generasi penerusnya tak mengenal dasar
pijakan mereka.
Pancasila bukan sekadar ideologi. Ia adalah napas bangsa.
Tapi napas itu kini tersengal di tengah intoleransi dan korupsi. Lidya
menyebut, masyarakat kita mudah diganggu oleh dua penyakit kronis itu. Maka,
menjaga kemajemukan bukan pilihan, tapi kewajiban.
“Jangan melihat perbedaan, tapi jagalah keberagaman,”
tegasnya. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi sulit dijalankan di tengah
politik identitas dan polarisasi sosial.
“Buat kita orang
muda, dengan perbedaan lahiriah kita bisa bersatu,” tambah Lidya. Tapi apakah
musyawarah mufakat masih hidup? Atau sudah menjadi jargon yang hanya muncul
saat kampanye?
Suparjo, mantan Ketum PP HIKMAHBUDHI dan Tenaga Ahli DPR RI,
menyambung nada yang sama. Ia menegaskan bahwa Pancasila harus dijalankan dalam
kehidupan sehari-hari. “Tak hanya di kepala kita, tapi harus dipraktekkan,”
ujarnya.
Suparjo juga menyarankan agar Pancasila kembali dimasukkan
ke dalam kurikulum pendidikan. Bukan sebagai hafalan, tapi sebagai penghayatan.
Karena jika anak-anak tak mengenal nilai-nilai luhur bangsa sejak dini, maka
kita sedang menyiapkan generasi yang kehilangan arah.
Pancasila bukan sekadar pelajaran kewarganegaraan. Ia adalah pelajaran tentang menjadi manusia Indonesia.
Diskusi yang digelar oleh PP GMKI ini menghadirkan banyak
tokoh muda: Addin Jauharudin, Noer Fajriansyah, Tweedy Noviadi, I Made Bawa
Yasa, Ayub Pongrekun, Andriyana, dan lainnya. Mereka bicara tentang Pancasila,
tentang bangsa, tentang harapan.
Tapi pertanyaannya: apakah suara mereka sampai ke telinga
kekuasaan? Ataukah hanya bergema di ruang diskusi, lalu hilang ditelan
algoritma media sosial?
Pancasila bukan sekadar lima sila. Ia adalah lima cahaya
yang menerangi jalan bangsa. Tapi cahaya itu bisa redup jika tak dijaga. Bisa
padam jika hanya dijadikan simbol, bukan substansi.
Generasi muda harus mengenal Pancasila bukan dari poster,
tapi dari praktik. Dari cara kita hidup, berbicara, dan memperlakukan sesama.
Karena bangsa yang besar bukan yang punya ideologi hebat,
tapi yang mampu menghidupkan ideologi itu dalam tindakan nyata.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar