Rabu, 07 Juni 2017

Pancasila; Bukan Sekadar Lima Kata, Tapi Lima Luka yang Harus Disembuhkan


JANGKARKEADILAN.COM, JAKARTA – Di sebuah ruang diskusi kecil di Matraman, Jakarta Timur, suara-suara muda berkumpul. Mereka bukan sekadar bicara politik, tapi bicara tentang jiwa bangsa. Tentang Pancasila. Tentang sesuatu yang katanya sudah final, tapi nyatanya masih sering dilupakan.

Lidya Natalia Sartono, mantan Ketum PP PMKRI dan kini Sekjen Vox Point Indonesia, mengaku sedih. “Masih ada kaum muda yang belum tahu tentang Pancasila dan tanggal lahirnya,” keluhnya. Ironis. Di negeri yang katanya berlandaskan Pancasila, justru generasi penerusnya tak mengenal dasar pijakan mereka.

Pancasila bukan sekadar ideologi. Ia adalah napas bangsa. Tapi napas itu kini tersengal di tengah intoleransi dan korupsi. Lidya menyebut, masyarakat kita mudah diganggu oleh dua penyakit kronis itu. Maka, menjaga kemajemukan bukan pilihan, tapi kewajiban.

“Jangan melihat perbedaan, tapi jagalah keberagaman,” tegasnya. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi sulit dijalankan di tengah politik identitas dan polarisasi sosial.

 “Buat kita orang muda, dengan perbedaan lahiriah kita bisa bersatu,” tambah Lidya. Tapi apakah musyawarah mufakat masih hidup? Atau sudah menjadi jargon yang hanya muncul saat kampanye?

Suparjo, mantan Ketum PP HIKMAHBUDHI dan Tenaga Ahli DPR RI, menyambung nada yang sama. Ia menegaskan bahwa Pancasila harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. “Tak hanya di kepala kita, tapi harus dipraktekkan,” ujarnya.

Suparjo juga menyarankan agar Pancasila kembali dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bukan sebagai hafalan, tapi sebagai penghayatan. Karena jika anak-anak tak mengenal nilai-nilai luhur bangsa sejak dini, maka kita sedang menyiapkan generasi yang kehilangan arah.

Pancasila bukan sekadar pelajaran kewarganegaraan. Ia adalah pelajaran tentang menjadi manusia Indonesia.

Diskusi yang digelar oleh PP GMKI ini menghadirkan banyak tokoh muda: Addin Jauharudin, Noer Fajriansyah, Tweedy Noviadi, I Made Bawa Yasa, Ayub Pongrekun, Andriyana, dan lainnya. Mereka bicara tentang Pancasila, tentang bangsa, tentang harapan.

Tapi pertanyaannya: apakah suara mereka sampai ke telinga kekuasaan? Ataukah hanya bergema di ruang diskusi, lalu hilang ditelan algoritma media sosial?

Pancasila bukan sekadar lima sila. Ia adalah lima cahaya yang menerangi jalan bangsa. Tapi cahaya itu bisa redup jika tak dijaga. Bisa padam jika hanya dijadikan simbol, bukan substansi.

Generasi muda harus mengenal Pancasila bukan dari poster, tapi dari praktik. Dari cara kita hidup, berbicara, dan memperlakukan sesama.

Karena bangsa yang besar bukan yang punya ideologi hebat, tapi yang mampu menghidupkan ideologi itu dalam tindakan nyata.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar