Bukan sekadar ibadah rutin. Ini adalah misa syukur. Sebuah
perayaan atas penempatan baru Letjen TNI Hinsa Siburian sebagai Wakil Kepala
Staf Angkatan Darat, berdasarkan SK Panglima TNI Nomor Kep/295/IV/2017. Dari
Tarutung ke Cenderawasih, kini ke jantung kekuasaan militer. Sebuah perjalanan
yang tak hanya menanjak pangkat, tapi juga menebalkan panggilan.
Dalam misa yang dipimpin Romo Rofinus Neto Wuli dan Romo
Antonius Dwi Haryanto, hadir para perwira tinggi Katolik: dari Letjen Purn FX
Sujasmin hingga Brigjen TNI Gunung Sarasmoro. Mereka datang bukan membawa
senjata, tapi membawa syukur. Bukan untuk rapat strategi, tapi untuk menyanyikan
pujian.
Paduan suara Valentino mengalun, bukan untuk parade militer,
tapi untuk menyatukan hati dalam liturgi. Di altar, tak ada pangkat. Hanya umat
yang bersujud dalam kesetaraan iman.
Romo Roni menyebut ibadah ini sebagai “wadah pemersatu semua
matra” dan “penguat spirit kebangsaan.” Sebuah pernyataan yang menggugah: bahwa
menjadi Katolik tak berarti menjadi asing di negeri ini. Justru sebaliknya—iman
yang kokoh adalah fondasi nasionalisme yang utuh.
Di tengah narasi yang kerap mencurigai minoritas, misa ini
adalah pengingat bahwa loyalitas pada negara tak ditentukan oleh mayoritas.
Bahwa cinta tanah air bisa lahir dari altar, bukan hanya dari podium politik.
Dalam perspektif hukum, kegiatan ini adalah pengejawantahan Pasal 28E UUD 1945: kebebasan beragama dan beribadah menurut keyakinan masing-masing. Tapi lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa negara dan agama bisa berdampingan tanpa saling menundukkan.
Bahwa seragam loreng dan jubah imam bisa berdiri sejajar,
tanpa saling mengancam. Bahwa iman tak perlu disembunyikan di balik tembok
barak.
Di tengah dunia yang gaduh oleh intoleransi dan politik
identitas, misa ini adalah oase. Sebuah pengingat bahwa Indonesia dibangun
bukan hanya oleh mayoritas, tapi oleh keberagaman yang dirawat dalam sunyi.
Mungkin tak semua orang tahu bahwa di markas pasukan elit,
ada doa yang naik ke langit. Tapi justru di situlah kekuatan sejati bangsa ini:
ketika iman dan negara tak saling menegasikan, tapi saling menguatkan.
Karena menjadi Indonesia bukan soal seragam, tapi soal
semangat. Dan semangat itu, kadang lahir dari altar yang sederhana—di sebuah
gereja kecil bernama St. Valentino.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar