Rabu, 07 Juni 2017

Misa di Markas Elit; Ketika Iman dan Negara Bertemu di Altar


JANGKARKEADILAN, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk politik dan deru mesin kekuasaan, ada sejenak hening yang tak tercatat dalam berita utama. Jumat, 2 Juni, Gereja St. Valentino di jantung markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, menjadi saksi bisu perayaan iman yang tak biasa: Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Maha Kudus oleh umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

Bukan sekadar ibadah rutin. Ini adalah misa syukur. Sebuah perayaan atas penempatan baru Letjen TNI Hinsa Siburian sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, berdasarkan SK Panglima TNI Nomor Kep/295/IV/2017. Dari Tarutung ke Cenderawasih, kini ke jantung kekuasaan militer. Sebuah perjalanan yang tak hanya menanjak pangkat, tapi juga menebalkan panggilan.

Dalam misa yang dipimpin Romo Rofinus Neto Wuli dan Romo Antonius Dwi Haryanto, hadir para perwira tinggi Katolik: dari Letjen Purn FX Sujasmin hingga Brigjen TNI Gunung Sarasmoro. Mereka datang bukan membawa senjata, tapi membawa syukur. Bukan untuk rapat strategi, tapi untuk menyanyikan pujian.

Paduan suara Valentino mengalun, bukan untuk parade militer, tapi untuk menyatukan hati dalam liturgi. Di altar, tak ada pangkat. Hanya umat yang bersujud dalam kesetaraan iman.

Romo Roni menyebut ibadah ini sebagai “wadah pemersatu semua matra” dan “penguat spirit kebangsaan.” Sebuah pernyataan yang menggugah: bahwa menjadi Katolik tak berarti menjadi asing di negeri ini. Justru sebaliknya—iman yang kokoh adalah fondasi nasionalisme yang utuh.

Di tengah narasi yang kerap mencurigai minoritas, misa ini adalah pengingat bahwa loyalitas pada negara tak ditentukan oleh mayoritas. Bahwa cinta tanah air bisa lahir dari altar, bukan hanya dari podium politik.

Dalam perspektif hukum, kegiatan ini adalah pengejawantahan Pasal 28E UUD 1945: kebebasan beragama dan beribadah menurut keyakinan masing-masing. Tapi lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa negara dan agama bisa berdampingan tanpa saling menundukkan.

Bahwa seragam loreng dan jubah imam bisa berdiri sejajar, tanpa saling mengancam. Bahwa iman tak perlu disembunyikan di balik tembok barak.

Di tengah dunia yang gaduh oleh intoleransi dan politik identitas, misa ini adalah oase. Sebuah pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh mayoritas, tapi oleh keberagaman yang dirawat dalam sunyi.

Mungkin tak semua orang tahu bahwa di markas pasukan elit, ada doa yang naik ke langit. Tapi justru di situlah kekuatan sejati bangsa ini: ketika iman dan negara tak saling menegasikan, tapi saling menguatkan.

Karena menjadi Indonesia bukan soal seragam, tapi soal semangat. Dan semangat itu, kadang lahir dari altar yang sederhana—di sebuah gereja kecil bernama St. Valentino.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar