“Buku ini kupersembahkan untuk anakku yang telah berpulang
ke rumah Bapa di Surga,” ucap Pak Theo, dalam acara bedah buku Di Tengah
Hambatan Beribadah Umat Kristiani di Graha Betel, Jakarta Pusat, Jumat 9
Juni 2017.
Lahir di Maumere, Flores, Pak Theo menempuh studi hingga ke
Jerman. Ia bukan hanya membawa koper, tapi juga membawa semangat lintas iman. Ia
bukan hanya belajar, tapi juga mengajar: tentang dialog, tentang toleransi,
tentang Indonesia yang seharusnya tidak mudah tersinggung oleh perbedaan.
Ia pernah memimpin Forum Komunikasi Kristiani Jakarta
(FKKJ), bersinergi dengan Inter Religion Council (IRC), dan menjalin kerja sama
lintas agama yang tak sekadar simbolik. Ia bukan tokoh yang gemar tampil di
layar, tapi jejaknya terpahat di hati para sahabat lintas iman.
Dalam acara bedah buku, hadir tokoh-tokoh lintas agama dan
lintas partai: Ketua DPP PDI-P Dr. Andreas Hugo Parera, Ketua PBNU Ir. Mochamad
Iqbal Sullam, tokoh NTT Blasius Bapa, dan Laksma (Purn) TNI Bonar Simangunsong.
Mereka tak datang untuk basa-basi. Mereka datang karena tahu: Pak Theo bukan
sekadar aktivis, ia adalah jembatan.
“Beliau tidak neko-neko, bergiat tanpa memikirkan imbalan.
Betul-betul pelayan Tuhan yang setia,” ujar Bonar.
Iqbal Sullam menambahkan, “Pak Theo dengan kearifan dan
keikhlasan dapat memperkuat ikatan-ikatan yang longgar ataupun rapuh dari
jembatan yang telah susah payah dibentangkan.”
Buku Di Tengah Hambatan Beribadah Umat Kristiani bukan sekadar biografi. Ia adalah dokumen sosial, refleksi hukum, dan kritik halus terhadap praktik diskriminatif yang masih membayangi kebebasan beragama di Indonesia. Ia tidak berteriak, tapi menggugah. Ia tidak menyalahkan, tapi mengingatkan.
Dalam hukum, kebebasan beragama dijamin oleh UUD 1945 Pasal
28E dan Pasal 29. Tapi dalam praktik, masih ada hambatan administratif, sosial,
bahkan struktural. Buku ini adalah saksi bahwa perjuangan itu nyata, dan bahwa
toleransi bukan sekadar kata dalam pidato.
Andreas Hugo Parera mengenang bagaimana Pak Theo membantunya
mendapatkan beasiswa ke Jerman. “Dengan gaya santai tapi tegas, Pak Theo terus
mendorong saya belajar bahasa Jerman. Akhirnya saya berangkat tahun 1992,”
katanya.
Pak Theo bukan hanya membuka jalan ke luar negeri, tapi juga
membuka jalan ke dalam hati. Ia membuktikan bahwa tokoh agama bisa menjadi
tokoh bangsa, bahwa iman bisa menjadi jembatan, bukan tembok.
Catatan Redaksi:
Di tengah riuh politik identitas, Pak Theo menulis dengan tinta kasih dan
kertas keberanian. Ia tidak memaksa, tapi mengajak. Ia tidak menggurui, tapi
memberi teladan. Buku ini bukan hanya untuk mengenang, tapi untuk melanjutkan.
“Di negeri yang kadang lupa cara berdialog, Pak Theo menulis
agar kita tak lupa cara mendengar.”
Adv. Darius Leka, S.H., M.H. (Salah satu tim penulis dan editor)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar