Rabu, 07 Juni 2017

Dari Hantu Komunis ke Bayang-Bayang Islamisme; Ancaman yang Berganti Wajah


JANGKARKEADILAN.COM, JAKARTA – Dulu, kita takut pada bayangan merah. Kini, kita gentar pada bayang-bayang hitam. Komunisme, yang dulu digemakan sebagai bahaya laten, kini tinggal dongeng di lembar sejarah. Tapi sejarah tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berganti wajah.

Komunisme di Indonesia, seperti kata banyak pengamat, sudah menjadi “hantu kuburan”—menakutkan hanya bagi mereka yang tak sadar bahwa kuburannya sudah lama digali. Uni Soviet, sang produser ideologi, sudah bubar. China pun kini lebih kapitalis daripada komunis. Kuba? Sudah kapok. Korea Utara? Mungkin satu-satunya yang masih bernostalgia.

Lalu mengapa masih ada yang gemar mengusik kuburan ideologi ini? Apakah karena ketakutan itu lebih mudah dijual daripada fakta?

Sementara itu, ancaman yang nyata justru datang dari arah lain. Bukan dari Islam, tapi dari Islamisme—ideologi politik yang mengatasnamakan agama untuk membangun kekuasaan. Islamisme bukan sekadar keyakinan, tapi ambisi. Ia ingin mengganti sistem, bukan memperbaiki masyarakat.

Kelompok Islamis punya satu tujuan: mendirikan negara Islam versi mereka. Tapi versi siapa? ISIS punya definisi sendiri. Hizbut Tahrir punya tafsir lain. Dan semua berlomba-lomba mengklaim kebenaran.

Islamisme tak selalu datang dengan senjata. Kadang ia menyusup lewat pengajian, grup WhatsApp, atau video penuh air mata penderitaan umat. Tapi ujungnya bisa sama: radikalisasi, ekstremisme, dan terorisme.

Dari Boston ke Kampung Melayu, dari Abu Sayyaf ke Jamaah Islamiyah, jejak Islamisme-teroris menyebar lintas benua. Mereka bukan lagi pemain lokal. Mereka adalah jaringan global dengan propaganda digital yang canggih dan mematikan.

Oxford Dictionary menyebut terorisme sebagai “penggunaan kekerasan yang melanggar hukum demi tujuan politik.” Tapi hukum saja tak cukup. Kita butuh pendidikan, kesejahteraan, dan wacana keagamaan yang ramah.

Masjid bukan benteng ideologi. Ia harus jadi taman toleransi. Para ustaz dan khatib bukan penjaga gerbang surga, tapi penjaga akal sehat umat.

Bahaya laten komunis? Sudah usai. Bahaya laten Islamis? Sedang berlangsung. Tapi jangan salah: waspada bukan berarti paranoid. Kita tak butuh pemburu hantu. Kita butuh penjaga masa depan.

Karena ancaman terbesar bukan ideologi itu sendiri, tapi ketidakmampuan kita membedakan antara keyakinan dan ambisi, antara agama dan kekuasaan.

 

Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar