Komunisme di Indonesia, seperti kata banyak pengamat, sudah
menjadi “hantu kuburan”—menakutkan hanya bagi mereka yang tak sadar bahwa
kuburannya sudah lama digali. Uni Soviet, sang produser ideologi, sudah bubar.
China pun kini lebih kapitalis daripada komunis. Kuba? Sudah kapok. Korea
Utara? Mungkin satu-satunya yang masih bernostalgia.
Lalu mengapa masih ada yang gemar mengusik kuburan ideologi
ini? Apakah karena ketakutan itu lebih mudah dijual daripada fakta?
Sementara itu, ancaman yang nyata justru datang dari arah lain. Bukan dari Islam, tapi dari Islamisme—ideologi politik yang mengatasnamakan agama untuk membangun kekuasaan. Islamisme bukan sekadar keyakinan, tapi ambisi. Ia ingin mengganti sistem, bukan memperbaiki masyarakat.
Kelompok Islamis punya satu tujuan: mendirikan negara Islam
versi mereka. Tapi versi siapa? ISIS punya definisi sendiri. Hizbut Tahrir
punya tafsir lain. Dan semua berlomba-lomba mengklaim kebenaran.
Islamisme tak selalu datang dengan senjata. Kadang ia
menyusup lewat pengajian, grup WhatsApp, atau video penuh air mata penderitaan
umat. Tapi ujungnya bisa sama: radikalisasi, ekstremisme, dan terorisme.
Dari Boston ke Kampung Melayu, dari Abu Sayyaf ke Jamaah
Islamiyah, jejak Islamisme-teroris menyebar lintas benua. Mereka bukan lagi
pemain lokal. Mereka adalah jaringan global dengan propaganda digital yang
canggih dan mematikan.
Oxford Dictionary menyebut terorisme sebagai “penggunaan
kekerasan yang melanggar hukum demi tujuan politik.” Tapi hukum saja tak cukup.
Kita butuh pendidikan, kesejahteraan, dan wacana keagamaan yang ramah.
Masjid bukan benteng ideologi. Ia harus jadi taman
toleransi. Para ustaz dan khatib bukan penjaga gerbang surga, tapi penjaga akal
sehat umat.
Bahaya laten komunis? Sudah usai. Bahaya laten Islamis?
Sedang berlangsung. Tapi jangan salah: waspada bukan berarti paranoid. Kita tak
butuh pemburu hantu. Kita butuh penjaga masa depan.
Karena ancaman terbesar bukan ideologi itu sendiri, tapi
ketidakmampuan kita membedakan antara keyakinan dan ambisi, antara agama dan
kekuasaan.
Adv. Darius Leka, S.H., M.H.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar