JANGKARKEADILAN, JAKARTA – Sabtu, 8 April 2017, Sanggar Prathivi, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebuah perayaan sederhana, namun sarat makna. Vox Point Indonesia genap berusia satu tahun. Tapi jangan salah, usia muda bukan berarti suara lirih.
Di tengah riuh rendah politik yang kerap lebih mirip
panggung sandiwara daripada ruang kebijakan, Vox Point Indonesia (VPI) muncul
sebagai aktor baru yang tak sekadar ingin tampil, tapi ingin bertindak. Sebuah
lembaga yang digagas sebagai wadah awam Katolik untuk terlibat dalam politik
dan sosial kemasyarakatan. Bukan untuk meng-Katolik-kan politik, tapi untuk
meng-politik-kan nilai-nilai Katolik: integritas, keadilan, dan keberpihakan
pada yang lemah.
Ketua Umum VPI, Handoyo Budhisedjati, bukan politisi
karbitan. Ia bukan pula pengkhotbah yang hanya fasih di altar. Dalam setiap
pidatonya, ia mengajak umat Katolik—terutama kaum muda—untuk tidak hanya berdoa
di gereja, tapi juga bersuara di parlemen. “Vox Point Indonesia hadir untuk
mengajak umat Katolik, termasuk kaum muda yang terpanggil untuk terlibat dan
terjun dalam politik dan sosial kemasyarakatan,” ujarnya.
Sebuah ajakan yang terdengar seperti doa, tapi juga seperti
tantangan. Di negeri yang kadang lebih percaya pada popularitas daripada
kompetensi, menjadi pemimpin berintegritas adalah jalan sunyi. Tapi VPI memilih
jalan itu.
Acara ulang tahun VPI bukan sekadar seremoni. Ada diskusi kebangsaan, rapat pleno, dan Misa Syukur. Hadir pula tokoh-tokoh lintas sektor: militer, legislatif, eksekutif, dan rohaniwan. Dari Mayjen TNI Jacob Djoko S. hingga Johnny G. Plate, dari Adrianto Gani hingga RD. Rofinus Neto Wuli.
Romo Ronny, sapaan akrab RD. Rofinus, dalam kotbahnya
mengingatkan: “Jikalau keberadaan Vox Point Indonesia hadir sebagai berkat dan
kuat kuasa Allah maka janganlah membusungkan dada kita tetapi bersyukurlah
kepada Tuhan.” Sebuah pesan yang mengandung satire halus: jangan sampai Vox
Point menjadi Vox Ego.
Ia menegaskan bahwa perbedaan aksi bukanlah perpecahan iman.
“Kita boleh berbeda dalam kegiatan dunia kita namun satu dalam gereja Katolik
dalam mewujudkan spiritualitas politik dan sosial kemasyarakatan di NKRI.”
Dalam perspektif hukum tata negara, kehadiran Vox Point
Indonesia adalah manifestasi dari hak konstitusional warga negara untuk
berserikat dan berkumpul. Namun lebih dari itu, ia adalah bentuk partisipasi
aktif umat beragama dalam merawat demokrasi. Bukan dengan dogma, tapi dengan
dialog.
Johnny G. Plate menyebut VPI sebagai penyambung kader-kader ke
partai politik. Sebuah pernyataan yang bisa dibaca sebagai peluang, tapi juga
tantangan. Apakah Vox Point akan menjadi incubator pemimpin berintegritas, atau
justru menjadi alat politik praktis?
Di usia yang masih belia, Vox Point Indonesia telah
menunjukkan bahwa gereja tidak harus diam di altar. Ia bisa hadir di ruang
publik, menyuarakan nilai, bukan sekadar moral. Ia bisa menjadi suara yang
tidak hanya mengutuk kegelapan, tapi menyalakan lilin.
Handoyo berharap VPI menjadi warisan bagi generasi muda.
“Dengan usia saya yang sudah hampir 60-an, semoga bisa menjadi kenangan untuk
diteruskan oleh yang muda-muda,” katanya. Sebuah harapan yang terdengar seperti
wasiat, tapi juga seperti tantangan.
Dan kita, sebagai bagian dari bangsa ini, hanya bisa berharap: semoga Vox Point Indonesia tidak menjadi sekadar Vox Populi yang riuh tapi hampa. Tapi menjadi Vox Dei—suara Tuhan—yang lembut namun tegas, dalam membangun Indonesia yang adil, beradab, dan berintegritas. (Adv. Darius Leka, S.H., M.H.)
#voxpointindonesia #katolikuntukkeadilan
#spiritualitassosialpolitik #umatkatolikberpolitik #merawatdemokrasi #suarauntukyanglemah #warisanuntukgenerasimuda #jangkarkeadilan #foryou
#fyp #edukasihukum #advokat #shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas
@semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar