JANGKARKEADILAN, JAKARTA – "Terpilihnya non-Muslim sebagai pemimpin adalah sah secara konstitusi, dan sah secara agama." Kalimat ini bukan sekadar opini, tapi hasil dari Bahtsul Masail Kiai Muda yang digelar oleh Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Sebuah forum intelektual yang tak hanya membahas hukum, tapi juga menyentuh nadi kebangsaan.
Diselenggarakan pada 11–12 Maret 2017 di Aula Iqbal Assegaf,
Jakarta, forum ini menghadirkan para kiai muda, ulama, dan tokoh GP Ansor.
Mereka tak bicara dengan emosi, tapi dengan dalil dan nalar. Hasilnya: setiap
warga negara berhak memilih pemimpin tanpa memandang agama. Titik.
Di tengah riuhnya kontestasi politik yang sering kali
dibumbui isu SARA, GP Ansor memilih jalan sunyi: berpikir. Mereka menyandingkan
konstitusi dengan fiqh, demokrasi dengan dalil. Dan hasilnya bukan benturan,
melainkan jembatan.
KH Najib Bukhori menegaskan, jika seorang non-Muslim terpilih sebagai kepala daerah, maka keterpilihannya sah secara hukum negara dan agama. Ini bukan kompromi, tapi konvergensi antara nilai-nilai Islam dan prinsip kebangsaan.
Namun, di luar aula diskusi, realitas berkata lain. Ketua
Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, menyoroti fenomena spanduk di masjid-masjid
yang menolak pengurusan jenazah muslim hanya karena pilihan politiknya.
"Kecenderungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasat mata,"
tegasnya.
Bayangkan, seorang muslim wafat, tapi ditolak disalatkan
hanya karena mendukung pemimpin non-Muslim. Seolah surga dan neraka ditentukan
oleh bilik suara, bukan oleh amal dan iman.
KH Abdul Ghofur Maemun Zubair pun angkat suara: "Jenazah
setiap muslim wajib disalatkan." GP Ansor bahkan siap mensalatkan dan
mentahlilkan jenazah yang ditolak. Sebuah sikap yang tak hanya religius, tapi
juga revolusioner.
Fenomena ini menunjukkan betapa politik identitas telah
meracuni ruang ibadah. Masjid yang seharusnya menjadi tempat pemersatu, berubah
menjadi arena seleksi ideologis. Padahal, Islam tak pernah mengajarkan
diskriminasi jenazah. Bahkan Rasulullah berdiri menghormati jenazah non-Muslim
yang lewat.
Maka pertanyaannya: apakah kita masih mengikuti ajaran Nabi,
atau sudah tersesat dalam fanatisme yang dibungkus dalil?
GP Ansor tak hanya bicara, mereka bergerak. Hasil Bahtsul
Masail ini akan disosialisasikan ke seluruh Indonesia. Sebuah upaya untuk
meredakan ketegangan politik yang bisa memecah belah umat. Karena dalam
demokrasi, perbedaan pilihan adalah keniscayaan, bukan dosa.
Dan kepada mereka yang menolak jenazah karena beda pilihan, izinkan kami mengutip satu kalimat: "Kematian tak pernah bertanya, kau pilih siapa. Tapi manusia yang hidup, kadang terlalu sibuk menghakimi." (Adv. Darius Leka, S.H., M.H.)
#keadilantanpasyarat #umatbersatu #politiksehat #islammoderat #kitasemuasaudara #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat #shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar