Rabu, 22 Maret 2017

Drama di Ruang Sidang; Ketika Tuhan Turun ke Pengadilan


JANGKARKEADILAN, JAKARTA –  "Saya diutus Allah ke sini. Negara ini sudah makin enggak benar." Kalimat itu menggema di ruang sidang perkara penodaan agama ke-15 dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Bukan dari saksi, bukan dari hakim, tapi dari seorang perempuan berkerudung yang tiba-tiba muncul, berteriak tanpa arah, dan mengaku sebagai utusan Tuhan.

Sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, seketika berubah dari forum hukum menjadi panggung absurd. Di saat Guru Besar Linguistik UI, Rahayu Surtiati, hendak memberikan keterangan sebagai saksi ahli, suara lantang dari sudut ruangan memecah konsentrasi: "Saya ini datang diutus Allah untuk membela kebenaran."

Perempuan itu, yang mengaku berasal dari Bekasi, diamankan oleh petugas Kepolisian karena dianggap mengganggu jalannya persidangan. Namun, sebelum dibawa keluar, ia sempat menyampaikan satu kalimat yang membuat kita merenung: "Negara ini sudah makin enggak benar."

Apakah itu jeritan kegelisahan rakyat? Atau hanya suara yang tersesat di antara logika dan keyakinan? Di ruang sidang yang seharusnya menjadi tempat pembuktian hukum, tiba-tiba muncul klaim ilahiah. Maka pertanyaannya: bagaimana hukum merespons suara yang datang dari langit?

Perkara penodaan agama yang menjerat Ahok memang bukan sidang biasa. Ia menyentuh urat sensitif bangsa: agama, politik, identitas. Tak heran jika ruang sidang kerap menjadi arena ekspresi, bahkan kadang teatrikal.

Namun, insiden ini membuka babak baru: ketika keyakinan pribadi bersinggungan langsung dengan proses hukum. Apakah pengadilan harus menyiapkan ruang untuk wahyu? Ataukah hukum tetap berdiri di atas bukti dan pasal, bukan pada klaim spiritual?

Wanita itu mungkin tak tercatat sebagai saksi, terdakwa, atau pengacara. Tapi ia adalah simbol dari suara-suara yang tak terdengar. Ia datang tanpa undangan, berbicara tanpa naskah, dan pergi tanpa berita. Tapi kalimatnya tertinggal: "Negara ini makin enggak benar."

Apakah ia gila? Atau justru waras di tengah kegilaan sistem? Kita tak tahu. Tapi satu hal pasti: hukum harus tetap berjalan, tapi jangan lupa mendengar. Karena kadang, suara paling jujur datang dari mereka yang tak punya panggung. (Adv. Darius Leka, S.H., M.H.)


#suaratanpapanggung #negaramakinenggakbenar #sidangdankeyakinan #hukumdanwahyu #kebenarandisidang #absurddipengadilan #jeritanrakyat #ahokdanidentitasbangsa #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat #shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar