![]() |
| "Yang dipertaruhkan bukan lagi kebenaran, tapi gengsi" |
Dalam sebuah forum publik yang disiarkan luas, dua tokoh hukum bersua: Refly
Harun, mantan staf ahli Mahkamah Konstitusi, dan David Pajung,
akademisi muda yang dikenal kritis dan tajam. Tema debatnya: konstitusionalitas
dan etika kekuasaan. Namun, alih-alih menjadi diskusi ilmiah yang
mencerahkan, panggung berubah menjadi arena adu ego.
David Pajung, dengan tenang namun menusuk, menyodorkan argumen yang membuat
Refly Harun terpojok. Tak terima, Refly justru menyerang balik dengan
menyebut-nyebut asal kampus lawannya. “Kamu dari universitas mana?” tanyanya,
dengan nada yang lebih menyerupai interogasi daripada klarifikasi.
Sebagai advokat, saya melihat ini bukan sekadar debat biasa. Ini adalah
potret bagaimana otoritas akademik kadang menjadi tameng untuk menolak
kritik. Padahal, dalam hukum, kebenaran tidak mengenal gelar. Ia
tunduk pada logika, bukan pada almamater.
Pertanyaan “kamu dari universitas mana?” seolah menyiratkan bahwa validitas
argumen ditentukan oleh asal kampus, bukan oleh substansi. Ini berbahaya. Sebab
dalam ruang hukum, egalitarianisme intelektual adalah fondasi: siapa
pun berhak menguji, mengkritik, dan membantah, selama berbasis data dan norma.
Dalam tayangan yang viral itu, David Pajung mengkritik inkonsistensi sikap
Refly Harun dalam menyikapi isu-isu konstitusional. Ia menyodorkan fakta,
kutipan, dan logika hukum. Refly, yang biasanya tenang dan artikulatif,
terlihat gusar. Ia menyebut David “tidak sopan” dan mempertanyakan
kredibilitasnya berdasarkan institusi pendidikan.
Namun publik justru melihat sebaliknya: yang emosional bukan yang
diserang, tapi yang terserang argumen.
Pelajaran hukum, jangan takut disanggah:
- Debat hukum adalah ruang uji nalar,
bukan adu gengsi.
- Argumentasi hukum harus diuji oleh
logika dan norma, bukan oleh status sosial atau akademik.
- Membawa nama universitas dalam debat
hukum adalah bentuk logical fallacy: ad hominem berbaju akademik.
- Hukum yang sehat tumbuh dari kritik,
bukan dari kultus individu.
Refly Harun adalah tokoh besar dalam dunia hukum tata negara. Tapi bahkan
tokoh besar pun bisa terpeleset oleh egonya sendiri. Ketika debat berubah
menjadi ajang mempertanyakan asal kampus, maka kita tahu: yang
dipertaruhkan bukan lagi kebenaran, tapi gengsi.
Dan dalam dunia hukum, gengsi tak punya tempat. Yang punya tempat
hanyalah argumen yang jernih, data yang sahih, dan keberanian untuk mengakui
jika salah.
Darius Leka, S.H.
#debatbukandebuego #hukumtakkenalalmamater #konstitusidiataskampus
#reflyvsdavid #universitasbukantameng #logikalebihtinggidarigengsi #gelartakmenyelamatkan
#tersandungegotersesatlogika #ketikaalmamaterdijadikantameng #advokatuntukdebatsehat
#kamibelaargumenbukanalmamater #debattanpadiskriminasiakademik #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat
#shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar