![]() |
| "Saya melihat ini bukan hanya soal politik, tapi soal etika komunikasi publik" |
Dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat di DPR, Benny memuji Hakim Mahkamah
Konstitusi Arsul Sani karena menunjukkan ijazahnya secara terbuka. “Contoh
transparansi,” katanya. Namun publik menangkap aroma sindiran: apakah ini
kritik terselubung terhadap Presiden Jokowi yang sempat diterpa isu ijazah
palsu?
Partai Demokrat buru-buru klarifikasi. “Itu bukan sindiran ke Pak Jokowi,”
ujar Syarief Hasan, anggota Majelis Tinggi Demokrat. “Itu bagian dari fungsi
check and balance.”
Namun, publik sudah terlanjur membaca antara baris. Di era digital,
klarifikasi sering datang terlambat. Narasi sudah berlari lebih cepat dari
fakta.
Yang mengejutkan bukan reaksi elite, melainkan suara akar rumput. Warga NTT,
yang selama ini dikenal loyal terhadap Benny, justru melayangkan peringatan
keras. Di media sosial dan kanal YouTube, muncul video dan komentar yang
menyayangkan sikap Benny. “Jangan bawa nama NTT untuk kepentingan politik yang
tidak jelas,” ujar seorang pemuda dalam video viral.
Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah teguran moral. Warga NTT seolah
berkata: “Kami memilihmu untuk bicara hukum, bukan untuk bermain teka-teki
politik.”
Sebagai advokat, saya melihat ini bukan hanya soal politik, tapi soal etika
komunikasi publik. Dalam hukum, ada asas presumption of innocence—setiap
orang dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya. Menyindir tanpa bukti
bisa menjadi bentuk insinuasi yang merusak reputasi tanpa dasar hukum.
Di sisi lain, fungsi pengawasan DPR memang penting. Tapi pengawasan harus
berbasis data, bukan insinuasi. Jika ada dugaan pelanggaran, ajukan melalui
mekanisme hukum. Jika tidak, diam adalah bentuk elegan dari integritas.
Sindiran Benny mungkin dimaksudkan sebagai satire. Tapi satire tanpa arah
bisa menjadi peluru nyasar. Dan ketika peluru itu mengenai warga sendiri, maka
yang terluka bukan lawan politik, melainkan kepercayaan publik.
Dalam dunia hukum, kata-kata adalah senjata. Tapi senjata harus digunakan
dengan tanggung jawab. Karena di balik mikrofon, ada jutaan telinga. Dan di
balik sindiran, ada konsekuensi.
Hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal etika. Dan etika dimulai
dari cara kita berbicara.
Darius Leka, S.H.
#ijazahdanintegritas #hukumbicaraetika
#advokatmelawanasumsi #sindirantanpabukti #nttbersuaraadil #ijazahbukanpuisi #sindiranyangtersesat #darinttuntuknurani #kataadalahsenjata #etikadiatasego #advokatbersuara #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat
#shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar