![]() |
| "Kita perlu memahami bahwa pergantian kuasa hukum bukanlah indikator bersalah atau tidaknya seseorang" |
Apa yang terjadi? Mengapa sang “Raja Hukum” tak lagi duduk di kursi
penasihat hukum Nadiem?
Pada tahap penyidikan kasus korupsi pengadaan laptop dalam program
Digitalisasi Pendidikan 2019–2022, Hotman Paris sempat menjadi bagian dari tim
hukum Nadiem Makarim. Kala itu, kehadirannya dianggap sebagai tameng hukum yang
kokoh, mengingat reputasinya dalam membela klien-klien papan atas.
Namun, menjelang persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, angin berbalik
arah. Nama Hotman tak lagi tercantum dalam daftar kuasa hukum. Sebagai
gantinya, muncul dua nama baru: Dodi S Abdulkadir dan Ari Yusuf Amir—pengacara
yang pernah mendampingi mantan Mendag Thomas Trikasih Lembong dalam kasus impor
gula.
Menurut pernyataan Dodi S Abdulkadir, keputusan untuk tidak lagi menggunakan
jasa Hotman Paris datang dari pihak keluarga Nadiem. Alasannya? Hotman
sedang sibuk menangani kasus-kasus besar lainnya.
Sebuah alasan yang terdengar diplomatis, namun menyisakan ruang tafsir.
Apakah ini murni soal jadwal? Atau ada dinamika lain yang tak terucap? Dunia
hukum, seperti panggung teater, kadang menyimpan lebih banyak drama di balik
tirai daripada yang tampak di depan publik.
Dalam dunia hukum, pengacara bukan sekadar juru bicara. Ia adalah arsitek
strategi, pelindung hak, dan kadang, aktor utama dalam narasi pembelaan. Maka,
ketika seorang tokoh sekelas Hotman Paris mundur dari panggung, publik berhak
bertanya: Apakah ini bagian dari strategi? Atau hanya jeda dalam simfoni
panjang drama hukum?
Mungkin, seperti dalam opera, sang maestro memilih untuk tidak memainkan
nada yang tak sesuai dengan iramanya. Atau mungkin, panggung lain lebih
menjanjikan sorotan yang lebih terang.
Kasus ini bukan sekadar tentang siapa membela siapa. Ini adalah cermin dari
bagaimana sistem hukum bekerja, bagaimana strategi hukum disusun, dan bagaimana
opini publik bisa dibentuk oleh siapa yang duduk di kursi pengacara.
Sebagai masyarakat, kita perlu memahami bahwa pergantian kuasa hukum
bukanlah indikator bersalah atau tidaknya seseorang. Ia bisa jadi bagian
dari kalkulasi hukum, atau sekadar urusan logistik profesional.
Namun satu hal pasti: dalam setiap kasus hukum, yang paling penting bukanlah
siapa pengacaranya, tapi bagaimana kebenaran ditegakkan.
Dan untuk para pencari keadilan, ingatlah: hukum bukan panggung sandiwara,
meski kadang lakonnya terasa seperti drama.
Darius Leka, S.H.
#dramahukumlaptopnegeri #hotmankeluarpanggung
#nadiemtanpahotman #laptopbermasalahnegarabertanya #siapadibaliklayar #belajarhukumdarikasus #advokatbicarafakta #strategihukumitupolitik #etikadibaliktoga #cincintakbersinardisidang #ketikapengacaramundur #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat
#shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar