![]() |
| "Saya percaya bahwa hukum harus menjadi pelita, bukan alat propaganda" |
Isu ijazah palsu yang menyeret nama Presiden Jokowi bukanlah perkara baru.
Namun, eskalasinya mencapai puncak ketika delapan orang, termasuk Roy Suryo,
dr. Tifa, dan Rismon Sianipar, ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro
Jaya atas dugaan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi bohong. Mereka
bukan sekadar warga biasa. Mereka adalah tokoh publik, akademisi, dan mantan
pejabat yang membawa serta kredibilitas dan jaringan.
Namun, yang lebih menarik bukan siapa yang dituduh, melainkan siapa yang membela.
Di balik layar, muncul nama-nama yang selama ini dikenal dekat dengan partai
politik berwarna biru. Bahkan, Wakil Ketua Umum Jokowi Mania (Joman), Andi
Azwan, secara terbuka menyebut bahwa “tokoh-tokoh Demokrat” berada di
balik isu ini. Sebuah tudingan yang tentu tak datang tanpa amunisi: Joman
mengklaim telah mengamankan 700 bukti.
Ketika Roy Suryo dan kawan-kawan mulai menghadapi proses hukum, sejumlah
tokoh yang sebelumnya hanya bersuara dari kejauhan kini turun langsung ke
gelanggang. Mereka membentuk tim hukum, melayangkan somasi kepada Presiden
Jokowi, dan menuntut pencabutan pernyataan soal “orang besar”. Ironisnya,
langkah hukum ini justru memperkuat dugaan bahwa ada kekuatan besar yang merasa
tersentil oleh ucapan Presiden.
Dalam dunia hukum, pembelaan adalah hak. Namun ketika pembelaan itu datang
dari tokoh-tokoh yang selama ini dikenal sebagai oposisi politik, publik berhak
bertanya: apakah ini murni pembelaan hukum, atau bagian dari skenario politik
yang lebih besar?
Sebagai advokat, saya percaya bahwa hukum harus menjadi pelita, bukan alat
propaganda. Namun dalam kasus ini, hukum tampak seperti panggung sandiwara, di
mana aktor-aktornya memainkan peran ganda: sebagai pencari keadilan dan
sekaligus pion politik.
Isu ijazah ini bukan lagi soal dokumen akademik. Ia telah menjelma menjadi
alat delegitimasi, senjata politik, dan panggung pembuktian kekuasaan. Dan
ketika “si biru” mulai muncul dalam narasi, kita tahu bahwa ini bukan sekadar
drama hukum, tapi juga pertarungan narasi menjelang kontestasi kekuasaan.
Insting Presiden Jokowi, yang semula dianggap spekulatif, kini tampak
seperti radar yang menangkap gelombang di balik layar. Ketika tokoh-tokoh besar
mulai menunjukkan diri, ketika pembelaan hukum menjadi panggung politik, dan
ketika warna biru menjadi petunjuk arah, publik pun mulai menyusun kepingan
puzzle ini.
Dan kita, sebagai masyarakat hukum, tak boleh hanya menjadi penonton. Kita
harus menjadi pembaca kritis, penanya yang tajam, dan penjaga agar hukum tak
menjadi alat kekuasaan, tapi tetap menjadi pelindung kebenaran.
Darius Leka, S.H.
#ijazahdanbayangbiru #hukummenelusurbayang
#turungunungsibiru #instingpresidentajam #timhukumatautimpolitik #roysuryodanbayangbesar #sibirudibalikijazah #advokatmelawannarasigelap #langitbirutapipenuhasap #kebenarantakperlutimhukum #siapadibaliktoga #bukansekadarijazah #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat
#shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar