Jumat, 28 November 2025

“Kemenangan yang Tak Pernah Sampai; Ketika Hukum Menjadi Panggung, Bukan Palu”

"Sebagai advokat, saya tahu betul; hukum bukan pertandingan sepak bola"
JANGKARKEADILAN,
JAKARTA — Benarkah kuasa hukum Denny Indrayana dan Ahmad Khozinudin belum pernah memenangkan perkara hingga membuat lawan hukum mereka masuk bui? Atau ini hanya narasi yang dibangun oleh netizen yang lapar sensasi? Mari kita bedah dengan kaca mata hukum, bukan kacamata medsos.

Dalam dunia hukum, advokat adalah aktor utama di panggung peradilan. Mereka bukan pesulap yang bisa mengubah nasib klien dengan satu mantra, melainkan pejuang argumen yang bersenjatakan pasal dan preseden. Namun, di era digital, peran advokat sering kali direduksi menjadi “pemenang” atau “pecundang”—seolah pengacara hanya dinilai dari berapa banyak lawan yang masuk penjara.

Denny Indrayana dan Ahmad Khozinudin adalah dua nama yang kerap muncul dalam pusaran isu-isu besar. Denny, mantan Wamenkumham dan pakar hukum tata negara, dikenal vokal mengkritik kekuasaan. Ahmad Khozinudin, advokat yang aktif dalam isu-isu keumatan dan kebebasan sipil, juga tak jarang menjadi sorotan.

Namun, belakangan ini, netizen ramai memperbincangkan satu hal: “Apakah mereka pernah menang perkara hingga lawan mereka masuk penjara?”

Berdasarkan penelusuran terhadap rekam jejak Denny Indrayana, memang ada kasus dugaan korupsi sistem payment gateway di Kemenkumham yang menyeret namanya sebagai tersangka. Ironisnya, kasus ini telah mangkrak selama lebih dari 10 tahun tanpa kejelasan hukum. Di sisi lain, belum ditemukan catatan publik yang menunjukkan bahwa Denny atau Ahmad Khozinudin berhasil membawa lawan hukum mereka ke balik jeruji besi melalui proses peradilan yang tuntas.

Namun, apakah itu berarti mereka gagal?

Tidak sesederhana itu.

Dalam hukum, “kemenangan” bukan hanya soal menjebloskan seseorang ke penjara. Ada perkara perdata yang berakhir damai, ada gugatan yang menggugah kesadaran publik, dan ada pula proses hukum yang membuka tabir kebenaran meski tak berujung vonis.

Sebagai advokat, saya tahu betul: hukum bukan pertandingan sepak bola. Tidak ada papan skor yang mencatat “menang” atau “kalah” secara mutlak. Kadang, kemenangan adalah ketika klien didengar. Kadang, kekalahan adalah ketika hukum dipakai untuk membungkam.

Maka, ketika publik menuntut “hasil akhir” berupa penjara, kita perlu bertanya: apakah itu satu-satunya ukuran keadilan?

Netizen boleh bersuara. Tapi mari kita bedakan antara kritik dan fitnah, antara pengawasan dan penghakiman. Jika kita ingin hukum menjadi panglima, maka kita pun harus menjadi rakyat yang paham hukum.

Karena dalam dunia hukum, yang abadi bukanlah sensasi, tapi preseden. Bukan siapa yang masuk penjara, tapi bagaimana proses itu dijalankan.

Darius Leka, S.H.

 

#hukumbukanajangskor #presedenlebihberartidaripenjara #advokatbukanalgojo #menangtanpajeruji #pasalbukanpanggungdrama #jerujibesibukantolakukurprestasi  #kuasahukumtanpavonis #netizenjadihakimbayangan #literasihukumuntukrakyat #bijakmenilaiadvokat #hukumbicarafaktabukanfiksi #jangkarkeadilan #foryou #fyp #edukasihukum #advokat #shdariusleka #darkalawoffice #jangkauanluas @semuaorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar